JAKARTA, Cobisnis.com – Kinerja ekspor sejumlah sektor industri nasional mulai menunjukkan tekanan. Sektor berorientasi ekspor tercatat di level 52,28 pada April 2026, turun dari 52,73 pada Maret menurut data Indeks Kepercayaan Industri Kementerian Perindustrian.
Dalam periode itu, tujuh sektor industri mengalami kontraksi. Salah satunya industri kayu, barang dari kayu dan gabus di luar furnitur, serta anyaman bambu dan rotan.
Pelaku usaha menilai masalah utama industri kriya nasional ada pada strategi lama yang belum berubah. Banyak pemain masih mengandalkan harga murah dan volume produksi besar.
Model seperti itu dinilai makin sulit dipertahankan. Indonesia harus berhadapan dengan China dan Vietnam yang unggul dalam efisiensi, kapasitas produksi, dan kecepatan distribusi.
Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia, Abdul Sobur, mengatakan Indonesia seharusnya tidak ikut perang harga. Menurutnya, kekuatan nasional justru ada di desain, budaya, dan kualitas pengerjaan tangan.
Ia menilai industri kriya Indonesia punya peluang besar masuk ke pasar bernilai tinggi. Segmen premium dinilai lebih cocok karena pembeli mencari cerita, identitas, dan kualitas, bukan sekadar harga murah.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan subsektor fesyen dan kriya menjadi kontributor utama ekonomi kreatif. Nilai ekspornya mencapai 28,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp476 triliun pada Januari hingga November 2025.
Angka besar itu menunjukkan pasar masih terbuka lebar. Namun tanpa perubahan strategi, nilai tambah terbesar bisa terus dinikmati negara pesaing yang lebih siap.
Sobur menilai kolaborasi perajin, seniman, dan desainer harus diperkuat. Produk kriya perlu diposisikan sebagai karya budaya yang punya nilai global, bukan sekadar barang dagangan.
Contoh kekuatan itu terlihat dari ukir Jepara yang kini dipamerkan di Museum Nasional Indonesia. Jepara dinilai bukan hanya sentra produksi, tetapi ekosistem budaya yang hidup dan diwariskan lintas generasi.
Jika kekuatan budaya ini dikemas serius, industri kriya RI bisa naik kelas. Tantangannya kini bukan soal bisa membuat produk, tetapi mampu menjual nilai di balik produk tersebut.













