JAKARTA, Cobisnis.com — Kebiasaan makan bersama ternyata tidak hanya berkaitan dengan aktivitas memenuhi kebutuhan makan.
Momen tersebut juga dapat menjadi sarana untuk memperkuat kedekatan dengan orang lain dan memberikan dampak positif bagi kondisi emosional.
Profesor ekonomi dan ilmu perilaku dari Universitas Oxford, Jan-Emmanuel De Neve, mengatakan makan bersama memiliki peran dalam membentuk dan mempertahankan hubungan sosial.
“Berbagi makanan adalah mekanisme penting untuk menjalin ikatan, membangun kepercayaan, dan terhubung dengan orang lain,” kata De Neve dikutip dari berbagai sumber, Kamis (3/09/26).
Di tengah rutinitas yang semakin padat, kesempatan untuk berkumpul sambil menikmati makanan bersama orang lain semakin berkurang.
Padahal, kebiasaan tersebut dapat menjadi ruang untuk berinteraksi dan menjaga hubungan.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan adanya keterkaitan antara frekuensi makan bersama dengan kesejahteraan psikologis.
Percakapan dan interaksi yang terjadi saat makan dapat membantu seseorang merasakan hubungan sosial yang lebih kuat.
Makan Bersama dan Risiko Depresi
Sebuah penelitian terhadap 9.361 perempuan berusia 60 tahun ke atas menemukan adanya hubungan antara kebiasaan makan bersama dan risiko mengalami depresi.
Dalam penelitian tersebut, jumlah orang yang berada di meja makan dapat menjadi salah satu indikator yang berkaitan dengan kondisi mental.
Temuan itu tetap terlihat setelah berbagai faktor lain turut diperhitungkan, seperti kesehatan, kondisi ekonomi, serta situasi tempat tinggal.
Hasil penelitian lain yang dilakukan di Tokyo juga memperlihatkan pola yang hampir sama. Kelompok berusia 65 sampai 74 tahun yang tinggal bersama keluarga, tetapi terbiasa makan sendirian, tercatat memiliki risiko gejala depresi lebih tinggi dibandingkan mereka yang rutin makan bersama.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa keberadaan anggota keluarga di rumah belum tentu secara otomatis membuat seseorang merasa memiliki koneksi sosial yang kuat.
Makan bersama dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk menciptakan interaksi, membuka percakapan, sekaligus mempererat hubungan dengan orang-orang di sekitar.
Membantu Menciptakan Rasa Nyaman
Kaitan antara aktivitas makan dan perasaan bahagia juga dapat dilihat dari respons biologis tubuh.
Antropolog biologi Universitas Oxford, Robin Dunbar, menyebut kegiatan makan dapat mengaktifkan sistem endorfin.
Endorfin merupakan zat kimia yang diproduksi tubuh dan berhubungan dengan munculnya sensasi menyenangkan.
Aktivitas tersebut ketika dilakukan bersama orang lain diduga dapat membantu memperkuat ikatan antarindividu.
De Neve mengatakan hubungan antara makanan dan interaksi sosial bukanlah sesuatu yang baru. Kebiasaan berbagi makanan telah menjadi bagian dari berbagai budaya selama waktu yang panjang.
“Ini memiliki akar budaya yang dalam,” katanya.
Tidak hanya memengaruhi hubungan sosial, kehadiran orang lain juga dapat mengubah pengalaman seseorang ketika menikmati makanan.
Riset Erica Boothby dari Universitas Pennsylvania menemukan bahwa peserta penelitian memberikan penilaian rasa cokelat yang lebih tinggi ketika menyantapnya bersama orang lain dibandingkan saat makan sendirian.
Artinya, teman makan dapat memberikan pengaruh terhadap pengalaman menikmati makanan, bukan sekadar membuat suasana menjadi lebih hidup.
Meluangkan waktu untuk makan bersama keluarga, sahabat, pasangan, atau orang terdekat bisa menjadi kebiasaan sederhana yang membantu menjaga komunikasi dan menciptakan suasana positif dalam kehidupan sehari-hari.













