JAKARTA, Cobisnis.com – Kafe ramah pelari bermunculan di dekat rute lari populer di seluruh Korea Selatan. Bisnis-bisnis ini semakin berkembang di sekitar destinasi lari yang terkenal, seperti Sungai Han, Taman Olimpiade, dan Hutan Seoul di Seoul, Pantai Haeundae di Busan, dan pantai Pulau Jeju.
Para pelanggan dari kalangan pelari di kafe-kafe ini dapat menerima fasilitas tambahan, seperti diskon minuman dan penitipan tas, dengan membuktikan bahwa mereka telah menyelesaikan lari pada hari itu. Konsep ini bertujuan untuk menjadikan kopi atau brunch setelah lari sebagai bagian dari rutinitas kesehatan.
Ini berbeda dari fasilitas umum seperti Runner Station milik Pemerintah Metropolitan Seoul, yang menawarkan ruang ganti dan loker, atau pusat penyewaan merek pakaian olahraga yang meminjamkan sepatu dan pakaian lari.
Meskipun konsep ini awalnya dimulai sebagai cara untuk menarik lebih banyak pelanggan untuk berdatangan ke kafe, sebagian besar pengelola kafe mengatakan bahwa mereka lebih termotivasi oleh antusiasme untuk menjalankan budaya daripada keuntungan.
Dilansir dari Korea Times, Kamis (03/09/2026), menurut Kang Dong-won, pemilik Evan Coffee di Distrik Mapo, Seoul, sebagai seorang pelari, saya menjadikan kafe ini ramah pelari pada Mei 2025 karena saya ingin berbagi budaya lari.
“Tidak peduli seberapa populernya lari, basis pelanggan pasti terbatas, jadi kebanyakan orang yang mengoperasikan kafe yang melayani pelari mungkin lebih peduli pada budaya daripada keuntungan,” jelas Dong-won.
Bahkan, beberapa kafe menyelenggarakan lari komunitas. Salah satunya di cabang Momos Coffee di Marine City, Busan, mengadakan lari kelompok gratis untuk staf dan pelanggan pada Sabtu pertama setiap bulan, sementara beberapa lokasi FOURB tertentu melakukan hal yang sama pada Sabtu terakhir setiap bulan.
“Awalnya, hanya karyawan kami yang berlari bersama, tetapi sudah lebih dari lima tahun sejak kami mulai berlari bersama pelanggan kami. Sangat memuaskan untuk berbagi budaya sehat di luar sekadar menjual minuman,” ungkap Kim Se-young, kepala dukungan operasional di FOURB.
Munculnya kafe-kafe semacam ini menunjukkan bahwa lari semakin menjadi gaya hidup utama di Korea Selatan, bukan sekadar tren sesaat.
“Dua tahun lalu, belum ada kafe yang nyaman untuk para pelari, dan orang-orang sering merasa tidak nyaman duduk dengan pakaian yang berkeringat.”
“Saat ini, di tengah pergeseran yang lebih luas menuju gaya hidup sehat dan penurunan konsumsi alkohol, semakin banyak kafe ramah pelari yang terus bermunculan,” tukas Lee Jae-young, manajer di Cafe RIDAR di Distrik Yongsan, Seoul.













