JAKARTA, Cobisnis.com – Panji Pragiwaksono membahas perbedaan marketing dan branding dalam kelas pakar Malaka. Ia menjelaskan konsep tersebut dengan menggunakan analogi sebuah sirkus untuk memudahkan pelaku usaha memahami fungsi masing masing aktivitas.
“Secara umum marketing itu sebuah rangkaian kegiatan yang didesain dari awal sampai akhir untuk memastikan sebuah produk sampai kepada konsumen,” ujar Panji dalam pemaparannya, dikutip dari kanal Youtube MALAKA, Senin (24/8/2026).
Menurut Panji, marketing secara klasik dikenal melalui konsep 4P, yaitu product, price, place, dan promotion. Namun, ia menilai konsep marketing dalam praktiknya mencakup rangkaian aktivitas yang lebih luas dari sekadar empat elemen tersebut.
Ia kemudian menggunakan contoh sebuah sirkus yang akan datang ke Jakarta untuk menjelaskan proses marketing. Pembuatan poster berisi informasi mengenai acara, harga tiket, lokasi, dan atraksi disebut sebagai iklan.
Sementara itu, aktivitas menyebarkan iklan kepada masyarakat disebut sebagai promosi. Dalam analoginya, poster sirkus ditempel pada seekor gajah yang kemudian dibawa berkeliling agar masyarakat melihat informasi tersebut.
Aktivitas tersebut kemudian dapat memunculkan publisitas ketika masyarakat dengan sukarela memotret dan membicarakan sirkus di media sosial. Jika pemberitaan semakin luas hingga masuk media konvensional, perhatian publik terhadap sirkus tersebut ikut meningkat.
Panji juga menjelaskan fungsi public relations dalam rangkaian tersebut. Menurutnya, public relations berperan memberikan penjelasan kepada publik ketika informasi atau publisitas yang beredar membutuhkan konteks tambahan dari pihak perusahaan.
Setelah masyarakat mengetahui informasi, aktivitas berikutnya adalah selling. Ia menggambarkan proses tersebut melalui penjualan tiket sirkus dengan menawarkan paket keluarga maupun paket tambahan yang memberikan fasilitas tertentu.
Menurut Panji, seluruh aktivitas sejak produk diperkenalkan hingga konsumen membeli dan mendapatkan pengalaman merupakan bagian dari marketing. Ia menekankan bahwa rangkaian tersebut dapat terjadi secara organik maupun direncanakan oleh perusahaan.
Berbeda dengan marketing, branding menurut Panji berkaitan dengan persepsi yang terbentuk di benak konsumen. Ia menjelaskan, ketika masyarakat melihat logo atau identitas sebuah sirkus dan langsung mengingat pengalaman yang pernah mereka rasakan, proses tersebut merupakan bagian dari branding.
“Brand hidupnya pada konsumen, di benak konsumen,” kata Panji. Karena itu, perusahaan perlu memastikan apa yang dikatakan kepada publik selaras dengan pengalaman yang benar benar diterima konsumen.
Panji juga mengaitkan konsep tersebut dengan personal branding. Menurutnya, personal branding merupakan upaya seseorang menyampaikan kepada dunia mengenai siapa dirinya agar mendapatkan peluang yang diinginkan.
Ia menilai persepsi tidak hanya dibentuk melalui iklan atau promosi. Interaksi nyata antara brand dan konsumen justru menjadi bagian penting dalam menentukan persepsi yang akhirnya melekat di benak publik.













