JAKARTA, Cobisnis.com – Memasuki 2026, evaluasi menjadi langkah penting bagi pelaku usaha untuk melihat apakah bisnis yang dijalankan masih berada di jalur yang tepat. Ferry membagikan metode evaluasi yang selama ini digunakannya untuk menilai kinerja bisnis dan menentukan langkah berikutnya.
“Jadi mau enggak mau lu harus selalu prepare, coba lagi evaluasi begitu seterusnya,” kata Ferry, dikutip dari kanal Youtube Ferry Irwandi, Jumat (4/9/2026).
Menurutnya, prinsip evaluasi tidak hanya berlaku untuk bisnis, tetapi juga dapat digunakan dalam proyek maupun berbagai hal yang sedang diupayakan dalam kehidupan.
Dalam mengevaluasi bisnis, Ferry menggunakan sejumlah indikator keuangan yang membantu melihat seberapa efektif modal dan sumber daya digunakan. Salah satunya adalah return on equity atau ROE, yang membandingkan laba bersih dengan ekuitas perusahaan.
Ferry memberikan contoh perusahaan dengan laba bersih Rp15 juta dan ekuitas Rp75 juta. Dengan perhitungan tersebut, ROE mencapai 20%, lebih tinggi dibanding perusahaan yang menghasilkan laba Rp5 juta dari ekuitas Rp500 juta dengan ROE hanya 1%.
Menurut Ferry, ROE membantu pelaku usaha melihat kemampuan bisnis dalam memaksimalkan modal yang tersedia. Semakin efektif modal menghasilkan keuntungan, semakin baik performa bisnis dari sisi indikator tersebut.
Indikator berikutnya adalah operating margin, yang menunjukkan seberapa besar laba operasi tersisa setelah biaya operasional diperhitungkan. Ferry menilai margin yang lebih tinggi memberikan ruang gerak lebih besar bagi bisnis untuk melakukan ekspansi dan mencoba strategi baru.
Ia kemudian menyoroti free cash flow atau FCF, yaitu kas yang tersisa setelah arus kas operasional dikurangi belanja modal. Menurut Ferry, bisnis dengan FCF positif dan konsisten memiliki kondisi likuiditas yang lebih baik serta tidak terlalu bergantung pada pendanaan eksternal.
Selain aspek keuangan, Ferry menilai kondisi tim juga perlu dievaluasi secara rutin. Produktivitas, pengembangan kemampuan, alur kerja, tingkat kepuasan, hingga ruang bagi karyawan untuk berinovasi menjadi bagian yang perlu diperhatikan pelaku usaha.
“Artinya kalau mau produktivitas lu naik terus, kapasitas timnya juga harus ditambah juga. Bukan cuma dengan nambah orang, tapi memastikan pertumbuhan orang yang ada berjalan dengan baik dan mereka mencapai puncak potensinya,” ujar Ferry.
Ferry juga menekankan pentingnya mengevaluasi product market fit. Produk yang terlihat bagus dan memiliki fitur lengkap belum tentu berhasil jika tidak sesuai dengan kebutuhan pasar.
Menurutnya, keberhasilan produk tidak cukup diukur dari ramainya promosi atau tingginya jumlah orang yang membeli. Pelaku usaha perlu melihat apakah konsumen melakukan pembelian kembali, bersedia membeli tanpa diskon, dan tetap menganggap produk tersebut bernilai.
Indikator lain yang menurut Ferry penting adalah exit strategy. Strategi ini diperlukan untuk menentukan langkah ketika bisnis atau investasi tidak berjalan sesuai rencana, termasuk menentukan kapan harus bertahan, mengubah strategi, atau keluar dengan kerugian seminimal mungkin.
“There’s always plan B,” kata Ferry. Menurutnya, rencana cadangan perlu dipikirkan sejak awal agar keputusan sehari hari tetap memiliki arah ketika kondisi bisnis berubah.
Ferry menilai evaluasi juga harus dilakukan berdasarkan data yang memadai. Ia menyebut penggunaan sistem ERP dapat membantu pelaku usaha melihat kondisi penjualan, keuangan, persediaan, hingga sumber daya manusia dalam satu sistem sehingga proses evaluasi tidak sepenuhnya dilakukan secara manual.
Pada akhirnya, Ferry mengingatkan pelaku usaha untuk tidak hanya mengejar kerja keras sepanjang 2026. “Jadi, marilah kita di tahun 2026 ini jangan cuma kerja lebih keras, tapi juga kerja lebih cerdas,” ujarnya.













