JAKARTA, Cobisnis.com – Kondisi ekonomi 2025 disebut memberi tekanan cukup besar terhadap bisnis yang menyasar segmen masyarakat menengah ke atas. Pengusaha sekaligus investor Ivan Tanjaya menyebut dampaknya terasa ekstrem pada segmen tersebut.
Hal itu disampaikan Ivan dalam perbincangan bersama The Overpost dalam video bertajuk “Ekonomi Kayak Gini, Kok Buka Resto Rp 100 MILIAR? – Ft. Ivan Tanjaya”.
“Middle to up ini yang benar-benar ekstrem, Bro, dampaknya. Ekstrem di 2025 itu turun mungkin 30 sampai 40%,” ujar Ivan, dikutip dari kanal Youtube Leon Hartono, Senin (1/9/2026).
Menurutnya, kondisi 2026 belum tentu dapat disebut lebih baik dibandingkan 2025. Namun, pelaku usaha dinilai sudah lebih siap menghadapi tekanan karena mulai beradaptasi dengan perubahan kondisi pasar.
“2026 lebih baik daripada 2025 ya? Sebenarnya enggak lebih baik, tapi kita sudah lebih siap,” katanya.
Kesiapan tersebut salah satunya dilakukan melalui efisiensi. Ivan menilai perusahaan tetap dapat meningkatkan laba meski pendapatan tidak mengalami pertumbuhan.
“Di 2026 meskipun mungkin revenue tidak naik tapi kita punya gross profit tetap bisa naik,” ujar Ivan.
Di sisi investasi, Ivan juga mengungkap perubahan sentimen investor. Jika pada 2024 investor disebut masih sangat antusias, situasinya berubah pada 2025 seiring memburuknya kondisi ekonomi global.
“Sebenarnya bukan cuma Indonesia sih, kita ngomong di luar negeri juga semua ekonomi memburuk,” kata Ivan.
Salah satu kekhawatiran terbesar investor adalah modal yang tidak kembali. “Yang paling sering mereka khawatirkan itu apa sih? Yang paling sering mereka pasti gini, enggak bisa balik modal lah,” ujar Ivan.
Menghadapi kondisi tersebut, Ivan memilih mempertahankan bisnis flagship untuk menjaga nama dan posisi merek, sembari menjalankan bisnis dengan segmen yang lebih luas untuk menjaga arus kas.
Menurutnya, strategi tersebut menjadi bagian dari upaya bisnis beradaptasi dengan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.













