JAKARTA, Cobisnis.com – Dokter Tirta membagikan pandangannya soal strategi influencer marketing dalam bisnis. Ia menekankan pentingnya menggunakan data untuk menentukan strategi, bukan sekadar mengandalkan asumsi atau pengalaman pribadi.
Dalam pemaparannya, Dokter Tirta mengatakan influencer, buzzer, dan promoter memiliki fungsi yang serupa dalam pemasaran, yakni membangun awareness dengan strategi masing masing. “Bagi saya influencer, buzzer, promoter itu semua adalah sama. Mereka menjual awareness dengan berbagai macam strateginya,” ujar Dokter Tirta, dikutip dari kanal Youtube MALAKA, Selasa (22/8/2026).
Ia juga membedakan strategi komunikasi influencer menjadi hard selling dan soft selling. Hard selling dilakukan secara langsung dengan ajakan membeli, sementara soft selling lebih mengandalkan pendekatan yang terlihat organik tanpa ajakan pembelian secara terang terangan.
Dokter Tirta mengatakan efektivitas kedua pendekatan tersebut tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan asumsi. Menurutnya, strategi pemasaran harus diuji melalui data dan penelitian agar hasilnya bisa dipertanggungjawabkan.
Dalam penelitian yang ia bahas, terdapat perbandingan antara macro influencer dan micro influencer dengan pendekatan hard selling serta soft selling. Penelitian tersebut menggunakan 328 sampel dan membandingkan efektivitas keempat kombinasi tersebut terhadap keputusan pembelian produk sepatu.
Hasil yang dipaparkan menunjukkan macro influencer dinilai efektif untuk mendorong penjualan secara cepat. “Makro influencer apapun penyampaian bahasanya itu ternyata berguna banget untuk instant sales,” ujar Dokter Tirta.
Menurutnya, pendekatan hard selling menjadi strategi yang kuat ketika brand membutuhkan dorongan penjualan secara langsung. Ia mencontohkan penggunaan influencer dengan jumlah pengikut besar untuk mempromosikan produk sekaligus memberikan ajakan pembelian.
Sementara itu, micro influencer dengan pendekatan soft selling dinilai lebih cocok untuk membangun kepercayaan dan kredibilitas. “Micro influencer dan soft selling language itu sangat efektif untuk maintain trust dan credibility dari brand,” kata Dokter Tirta.
Untuk mendorong keputusan pembelian secara langsung, Dokter Tirta juga menilai micro influencer dengan hard selling memiliki efektivitas tersendiri. Strategi tersebut dinilai relevan dengan perkembangan affiliate marketing di platform seperti TikTok Shop dan Shopee.
Ia juga menyoroti munculnya konsep Key Opinion Consumer atau KOC. Dalam strategi ini, konsumen dapat berperan sebagai penyampai pengalaman sekaligus brand ambassador melalui testimoni yang diberikan kepada calon konsumen lainnya.
Menurut Dokter Tirta, indikator keberhasilan kampanye juga harus disesuaikan dengan tujuan bisnis. “Kalau si influencer ini di-hire untuk instant sales, patokannya adalah rasio perbandingan efektivitas dia, berapa revenue dibanding biaya, rasionya berapa,” jelasnya.
Sebaliknya, kampanye yang bertujuan membangun trust dan awareness memiliki indikator berbeda. Ia menilai brand identity dan kepercayaan konsumen seharusnya dipandang sebagai investasi, bukan sekadar pengeluaran.
Di sisi bisnis, Dokter Tirta mengingatkan pemilik usaha agar tidak terburu buru melakukan scale up. Menurutnya, pemilik bisnis harus terus belajar, memahami angka, dan memastikan setiap keputusan memiliki dasar yang jelas agar risiko kegagalan dapat ditekan.













