JAKARTA, Cobisnis.com – Israel membantah keterlibatan dalam insiden yang menewaskan tiga prajurit TNI di Lebanon Selatan dan menyalahkan Hizbullah sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB. Israel menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan UNIFIL bukan berasal dari militernya.
Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, menyebut insiden terjadi akibat alat peledak dan tembakan dari Hizbullah. Ia menilai kelompok tersebut sebagai pemicu utama eskalasi di kawasan.
Menurut Danon, lokasi kejadian di Bani Hayan dan Adshit al-Qasr merupakan area dengan risiko tinggi. Ia menggambarkan kondisi lapangan sebagai sangat kompleks dan berbahaya.
Israel juga menyatakan tidak memiliki keterlibatan dalam serangan di sekitar posisi UNIFIL. Klaim ini sekaligus menepis tudingan yang mengarah pada militer Israel.
Di sisi lain, Hizbullah dituding telah melakukan ribuan serangan roket dan drone dari Lebanon Selatan. Aksi tersebut disebut melanggar berbagai resolusi internasional.
Ketegangan di kawasan memang terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Konflik antara Israel dan Hizbullah kembali memanas seiring dinamika geopolitik Timur Tengah.
Pasukan UNIFIL yang bertugas menjaga stabilitas di perbatasan Lebanon-Israel kini menghadapi risiko yang semakin tinggi. Insiden ini menjadi bukti nyata meningkatnya ancaman di lapangan.
Gugurnya prajurit TNI dalam misi perdamaian menjadi perhatian serius bagi Indonesia. Peristiwa ini juga memicu respons diplomatik di tingkat internasional.
Situasi ini menunjukkan betapa rentannya pasukan penjaga perdamaian di tengah konflik bersenjata. Risiko tidak hanya datang dari satu pihak, tetapi dari kompleksitas konflik itu sendiri.
Pernyataan Israel di PBB menjadi bagian dari upaya menjelaskan posisi mereka di tengah sorotan global. Namun, investigasi lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan kronologi kejadian.
Konflik yang terus berlarut ini menambah daftar panjang ketegangan di Timur Tengah. Dampaknya tidak hanya regional, tetapi juga menyentuh kepentingan banyak negara, termasuk Indonesia.













