• © Copyright 2025 Cobinis.com – All Right Reserved
Friday, August 14, 2026
Cobisnis
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
No Result
View All Result
Cobisnis
No Result
View All Result
Home Teknologi

Ilmuwan Iklim Tak Sengaja Yang Mengungkap Kekuatan Tersembunyi Pemanasan Global

Zahra Zahwa by Zahra Zahwa
January 30, 2026
in Teknologi
0
Ilmuwan Iklim Tak Sengaja Yang Mengungkap Kekuatan Tersembunyi Pemanasan Global

JAKARTA, Cobisnis.com – Ilmuwan Veerabhadran Ramanathan tumbuh besar di India selatan pada 1960-an dengan impian khas Amerika: memiliki sebuah Chevrolet Impala, mobil muscle car yang ia kenal dari ayahnya yang bekerja sebagai penjual ban. Ia akhirnya berhasil pindah ke Amerika Serikat di usia 20-an, namun impian memiliki mobil boros bensin itu tak pernah terwujud, karena pengetahuannya tentang pemanasan global justru berkembang lebih cepat daripada penghasilannya.

Pada 1970-an, Ramanathan yang kala itu merupakan peneliti pascadoktoral muda di bidang ilmu planet, bekerja siang hari sebagai peneliti tamu di NASA Langley Research Center, Virginia. Di malam hari, ia diam-diam mengerjakan proyek pribadi yang bahkan tidak diketahui atasannya. Penelitian sunyi itulah yang kelak mengubah cara dunia memandang pemanasan global.

Ramanathan menemukan bahwa chlorofluorocarbons (CFC), bahan kimia yang saat itu banyak digunakan dalam kulkas, AC, dan kaleng semprot, memiliki efek gas rumah kaca yang sangat kuat. Ia pernah bersentuhan dengan CFC saat bekerja di perusahaan pendingin. Seperti karbon dioksida, CFC menjebak panas di atmosfer, namun hasil perhitungannya menunjukkan dampak yang jauh lebih besar: satu molekul CFC bisa memerangkap panas setara hingga 10.000 molekul CO₂.

Selama tiga bulan, ia mengulang perhitungannya berulang kali untuk memastikan tidak ada kesalahan. Hasilnya tetap sama.

“Saya hanya seorang postdoc imigran dari India. Saya tidak tahu apakah harus melaporkan ini ke NASA atau tidak. Saya langsung mengirimkan makalahnya,” kenang Ramanathan.

Penelitiannya diterbitkan di jurnal Science dan menjadi berita utama The New York Times pada 1975. Temuan ini awalnya disambut dengan skeptisisme, bahkan oleh Ramanathan sendiri, karena ia memulai penelitian itu murni karena rasa ingin tahu, di masa ketika perubahan iklim belum menjadi isu global utama.

Pada akhirnya, Ramanathan membuktikan bahwa gas rumah kaca selain CO₂ merupakan kontributor utama pemanasan global. Pengetahuan ini menjadi fondasi kebijakan mitigasi iklim pertama yang sukses di dunia.

Atas kontribusinya, Royal Swedish Academy of Sciences menganugerahkan Crafoord Prize kepada Ramanathan, profesor riset terkemuka di Scripps Institution of Oceanography, UC San Diego. Penghargaan senilai sekitar 8 juta krona Swedia (sekitar Rp14 miliar) ini kerap dianggap sebagai pertanda awal menuju Nobel.

“Dia telah memperluas pemahaman kita tentang bagaimana manusia memengaruhi komposisi atmosfer, iklim, dan kualitas udara, serta bagaimana ketiganya saling terkait,” ujar Ilona Riipinen, profesor ilmu atmosfer Universitas Stockholm.

Ramanathan menyebut terobosan awal kariernya sebagai rangkaian “kecelakaan yang beruntung”. Setelah belajar teknik di Bengaluru, ia sempat bekerja di perusahaan kulkas, lalu melanjutkan studi doktoral di SUNY Stony Brook. Disertasinya justru membahas efek rumah kaca di atmosfer Venus. Saat bekerja di NASA, ia juga terinspirasi oleh riset Mario Molina dan Frank Rowland tentang dampak CFC terhadap lapisan ozon.

Pada 1985, Ramanathan ikut menulis makalah yang menyimpulkan bahwa gas jejak seperti metana dan dinitrogen oksida sama pentingnya dengan CO₂ dalam pemanasan global jangka panjang. Kesimpulan ini mengguncang komunitas ilmiah.

“Para ilmuwan tiba-tiba sadar bahwa pemanasan global akan terjadi dua kali lebih cepat dari yang diperkirakan,” kata sejarawan sains Spencer Weart.

Ramanathan juga berperan dalam mendorong pelarangan CFC melalui Protokol Montreal 1987, yang menurut studi Nature tahun 2021 telah mencegah pemanasan tambahan hingga 1 derajat Celsius.

Sepanjang kariernya, ia menggunakan satelit, balon, drone, dan kapal untuk mengamati atmosfer secara langsung. Ia membuktikan bahwa awan memiliki efek mendinginkan bumi, menunjukkan peran uap air dalam memperkuat pemanasan CO₂, serta mengungkap fenomena atmospheric brown cloud lapisan polusi udara tebal di Asia Selatan yang sempat “menutupi” sebagian dampak pemanasan global.

Sejak 2012, Ramanathan juga menjadi anggota Dewan Akademi Kepausan Ilmu Pengetahuan, memberi masukan kebijakan iklim kepada tiga paus berturut-turut. Pengalaman ini membuatnya semakin menekankan sisi etika krisis iklim, yang menurutnya akan paling berat dirasakan oleh masyarakat miskin.

Kini di usia 81 tahun, Ramanathan mengendarai Tesla Model Y dan menggunakan energi surya di rumahnya di California. Namun ia menegaskan bahwa solusi krisis iklim tidak cukup hanya dari tindakan individu.

“Saya selalu bilang ke generasi muda: berdirilah, pilih pemimpin yang tepat, dan sebarkan ilmu berbasis data bukan sains sampah,” tegasnya.

Free Download WordPress Themes
Download WordPress Themes
Free Download WordPress Themes
Free Download WordPress Themes
online free course
download lenevo firmware
Download WordPress Themes Free
free online course
Tags: cobisnis.comIlmuwanIklimPemanasanGlobal

Related Posts

Tokopedia dan TikTok Shop Perkuat #BeliLokal, Penjualan Produk Lokal Tembus 700 Juta

Tokopedia dan TikTok Shop Perkuat #BeliLokal, Penjualan Produk Lokal Tembus 700 Juta

by Rizki Meirino
August 13, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Tokopedia dan TikTok Shop memperkuat ekosistem #BeliLokal untuk mendorong pelaku usaha lokal dan UMKM Indonesia naik kelas....

FIFA ASEAN Cup 2026

India Mundur dari FIFA ASEAN Cup 2026 di Indonesia, Pilih Hadapi Brasil

by Desti Dwi Natasya
August 13, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Timnas India resmi mengundurkan diri dari FIFA ASEAN Cup 2026 yang akan berlangsung di Indonesia karena memilih...

Henhen Herdiana dipinjamkan Persib

Persib Kembali Pinjamkan Henhen, Ini Alasan di Balik Keputusan Klub

by Desti Dwi Natasya
August 13, 2026
0

Metapos.id, Jakarta - Persib Bandung kembali meminjamkan Henhen Herdiana untuk musim depan setelah sang pemain menjalani masa peminjaman di Persik...

KPK Periksa Dugaan Korupsi CSR Bank BJB, Kasus Iklan Masih Berjalan

KPK Periksa Dugaan Korupsi CSR Bank BJB, Kasus Iklan Masih Berjalan

by Hidayat Taufik
August 13, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali memperdalam perkara dugaan korupsi yang melibatkan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat...

LA Lakers Dijual US$12,5 Miliar kepada Bob Iger dan Josh Kushner

Google Perkenalkan Fitur AI Baru untuk Android dan Pixel 11 Pro

by Zahra Zahwa
August 13, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Google mulai menyiapkan perubahan besar dalam cara pengguna berinteraksi dengan smartphone melalui teknologi kecerdasan buatan atau AI....

Load More
  • Trending
  • Comments
  • Latest
KPK Periksa Dugaan Korupsi CSR Bank BJB, Kasus Iklan Masih Berjalan

KPK Periksa Dugaan Korupsi CSR Bank BJB, Kasus Iklan Masih Berjalan

August 13, 2026
MPR Tegas: Sidang Tahunan 14 Agustus Tanpa Lagu Pemicu Joget

MPR Tegas: Sidang Tahunan 14 Agustus Tanpa Lagu Pemicu Joget

August 13, 2026
7 Rekomendasi Camilan Sehat yang Baik untuk Penceranaan

7 Rekomendasi Camilan Sehat yang Baik untuk Penceranaan

August 13, 2026
YouTube Perketat Aturan Monetisasi Konten Seperti Ini Bisa Sulit Dapat Uang

YouTube Perketat Aturan Monetisasi Konten Seperti Ini Bisa Sulit Dapat Uang

August 13, 2026
Ini Kota Terbahagia di Dunia, Penduduknya Punya Kualitas Hidup yang Terjamin

Ini Kota Terbahagia di Dunia, Penduduknya Punya Kualitas Hidup yang Terjamin

August 13, 2026
Tokopedia dan TikTok Shop Perkuat #BeliLokal, Penjualan Produk Lokal Tembus 700 Juta

Tokopedia dan TikTok Shop Perkuat #BeliLokal, Penjualan Produk Lokal Tembus 700 Juta

August 13, 2026
Karoline Leavitt

Karoline Leavitt Mundur dari Sekretaris Pers Gedung Putih, Pilih Fokus pada Keluarga

August 13, 2026
FIFA ASEAN Cup 2026

India Mundur dari FIFA ASEAN Cup 2026 di Indonesia, Pilih Hadapi Brasil

August 13, 2026
">
  • Redaksi
  • Profil
  • Media Kit
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Nasional
  • Industri
  • Lifestyle
  • Humaniora
  • Kesehatan & Olahraga
  • Startup Center
  • Foto
  • Youtube

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved