JAKARTA, Cobisnis.com – Jengkol dikenal sebagai makanan dengan aroma yang sangat khas. Bau tersebut dapat muncul baik ketika jengkol masih mentah maupun setelah diolah menjadi berbagai hidangan.
Aroma jengkol bagi sebagian orang justru menjadi daya tarik. Namun, ada pula yang merasa kurang nyaman dengan baunya. Aroma tersebut bahkan dapat semakin kuat pada jengkol beweh, yaitu jengkol yang sebelumnya disimpan atau dikubur dalam tanah selama beberapa hari.
Kandungan dalam Jengkol Picu Aroma Khas
Dokter spesialis gizi klinis RSIA Melinda Bandung Johanes Casay Chandrawinata menyebut aroma menyengat jengkol berkaitan dengan kandungan senyawa tertentu di dalamnya.
Senyawa tersebut dikenal sebagai asam jengkolat. Kandungan sulfur di dalamnya disebut berperan terhadap munculnya aroma khas jengkol.
“Asam amino ini kita sebut juga sebagai asam jengkolat, inilah yang bikin bau pada jengkol,” kata Johanes, dikutip dari berbagai sumber, Minggu (4/10/26).
Secara ilmiah, jengkol memiliki nama Archidendron pauciflorum. Tanaman yang termasuk keluarga Fabaceae ini juga dikenal dengan sebutan dog fruit atau blackbead.
Efeknya Bisa Terasa Setelah Dimakan
Bau jengkol tidak berhenti pada makanan yang dikonsumsi. Setelah masuk ke dalam tubuh, senyawa dari jengkol dapat menyebabkan aroma khas muncul pada napas dan urine.
Asam jengkolat yang mengandung sulfur dapat masuk ke dalam tubuh setelah jengkol dikonsumsi. Senyawa tersebut kemudian dapat terbawa melalui aliran darah dan memengaruhi organ tubuh.
Salah satu efek yang mudah dikenali adalah perubahan aroma urine menjadi lebih menyengat. Kondisi ini umumnya dirasakan setelah seseorang mengonsumsi jengkol.
Meski demikian, konsumsi jengkol juga perlu dilakukan secara bijak. Dalam jumlah tertentu, asam jengkolat dapat membentuk kristal yang berpotensi menghambat saluran urine.
Gangguan tersebut dapat menimbulkan berbagai keluhan, mulai dari rasa sakit saat buang air kecil hingga urine yang mengandung darah.
“Untuk beberapa kasus bahkan orang yang makan satu jengkol saja bisa mengalami sakit kencing atau jejengkoleun sampai harus dirawat untuk mengobati sakit kencingnya,” kata Johanes soal kenapa jengkol itu bau.











