Pembahasan tersebut disampaikan Ferry Irwandi melalui konten di kanal YouTube miliknya saat rupiah tengah mengalami tekanan.
Menurutnya, pelemahan rupiah tidak bisa dilihat hanya dari satu faktor karena terdapat sejumlah kondisi yang saling berkaitan.
“Jadi, sederhananya gua bagi ketiga lapis faktor kenapa rupiah melemah. Pertama eksternal, kedua domestik. Ketiga, kepercayaan,” kata Ferry Irwandi dari kanal YouTube Ferry Irwandi, dikutip Cobisnis Jumat (21/8/2026).
Ferry menjelaskan faktor eksternal berkaitan dengan kondisi ekonomi global, kekuatan dolar Amerika Serikat, hingga konflik geopolitik.
Menurutnya, kondisi global yang tidak stabil dapat membuat investor mencari aset yang dianggap lebih aman, salah satunya dolar AS.
Selain faktor eksternal, ia menyoroti kondisi domestik yang turut memberikan tekanan terhadap rupiah.
“Masalahnya apa yang sebenarnya terjadi di domestik kita? Ada beberapa hal yang teman-teman harus lihat. Pertama, belanjanya besar. Kedua, subsidi energi. Ketiga, kebutuhan dolar meningkat,” ujarnya.
Ferry menilai pelemahan rupiah tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada Bank Indonesia karena kebijakan fiskal, kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, dan kepercayaan pasar juga memiliki keterkaitan.
Ia kemudian menyoroti peningkatan belanja pemerintah dan subsidi energi yang menurutnya menjadi bagian dari kondisi domestik yang perlu diperhatikan.
“Makanya yang terbebanin tetap aja kurs atau mata uang. Pertumbuhan ekspor kita melambat, beban subsidi semakin besar, belanja pemerintah semakin besar, belanja beban dan sementara pendapatan negara kita enggak ngejar,” ungkapnya.
Selain kondisi eksternal dan domestik, Ferry menyebut kepercayaan pasar sebagai faktor ketiga yang dapat memengaruhi nilai tukar rupiah.
Menurutnya, pasar akan memperhatikan disiplin fiskal, kredibilitas bank sentral, serta arah kebijakan ekonomi pemerintah.
“Makanya, ketika tidak ada disiplin fiskal, tidak ada kredibilitas bank sentral dan tidak ada arah kebijakan ekonomi yang jelas, market distrust dong,” tegas Ferry.
Ia menilai pemerintah perlu memperbaiki komunikasi kepada masyarakat, membenahi struktur APBN, menjaga devisa agar tidak mudah keluar dari Indonesia, serta memperkuat sinergi antara Bank Indonesia, OJK, dan Kementerian Keuangan.
Menurut Ferry, sejumlah langkah tersebut diperlukan untuk membantu menjaga stabilitas rupiah, meski prosesnya tidak dapat dilakukan secara instan.
Catatan: aku sengaja pakai kata “pernah membahas” dan “kala itu” supaya pembaca nggak mengira angka Rp17.500 tersebut adalah kondisi rupiah pada 24 Agustus 2026.