JAKARTA, Cobisnis.com – Bank Sentral Eropa (ECB) memperingatkan risiko resesi jika harga minyak global melonjak tajam akibat konflik Timur Tengah.
Pernyataan ini disampaikan pembuat kebijakan ECB, Yannis Stournaras, yang menilai skenario terburuk bisa terjadi jika harga minyak menembus US$150 per barel.
Ia menegaskan bahwa saat ini resesi belum menjadi kepastian. Namun, jika perang terus berlanjut dan harga energi semakin naik, tekanan ekonomi bisa sulit dihindari.
Kekhawatiran ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan global. Konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel menjadi faktor utama yang mendorong ketidakpastian pasar.
Bank of England (BoE) sebelumnya juga telah mengeluarkan peringatan serupa. Konflik ini disebut sebagai guncangan pasokan besar yang berdampak luas pada ekonomi global.
BoE menilai kombinasi pertumbuhan yang melemah, inflasi tinggi, dan biaya pinjaman yang naik bisa memicu tekanan serentak di berbagai sektor.
Gangguan di Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia, menjadi salah satu pemicu utama lonjakan harga energi global.
Di Inggris, harga gas alam melonjak lebih dari 70%. Sementara itu, harga bensin naik sekitar 10%, yang langsung berdampak pada biaya hidup masyarakat.
Tekanan juga terasa di sektor keuangan. Suku bunga KPR tenor dua tahun naik sekitar 90 basis poin dibandingkan sebelum konflik dimulai.
Dampaknya, sekitar 21% produk KPR ditarik dari pasar. Kondisi ini menunjukkan sektor pembiayaan mulai tertekan akibat ketidakpastian ekonomi.
Pasar obligasi pemerintah Inggris juga dinilai rentan terhadap gejolak. Aktivitas hedge fund berpotensi memicu aksi jual besar yang bisa mengganggu likuiditas.
Selain itu, saham teknologi di Amerika Serikat ikut menjadi sorotan. Valuasi yang tinggi dinilai rawan terkoreksi jika biaya energi terus meningkat.
Meski begitu, kondisi rumah tangga dan perbankan di Inggris masih relatif stabil. Namun tekanan jangka menengah tetap membayangi jika tren ini berlanjut.
Situasi ini menegaskan bahwa konflik geopolitik kini berdampak langsung ke ekonomi global. Lonjakan energi menjadi faktor utama yang bisa memicu perlambatan ekonomi.













