JAKARTA, Cobisnis.com – Komoditas nikel kembali menjadi tulang punggung investasi hilirisasi Indonesia pada kuartal I 2026 dengan nilai mencapai Rp 41,5 triliun.
Angka ini menjadikan nikel sebagai penyumbang terbesar dalam investasi sektor mineral. Posisi Indonesia sebagai pemilik sekitar 42 persen cadangan nikel dunia menjadi faktor utama daya tarik investasi.
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyebut dominasi nikel tidak terlepas dari kebutuhan global yang terus meningkat. Permintaan tinggi membuat arus foreign direct investment (FDI) tetap mengalir deras ke sektor ini.
Secara total, investasi hilirisasi sektor mineral mencapai Rp 98,3 triliun. Nikel menjadi kontributor utama, jauh melampaui komoditas lain dalam periode yang sama.
Investasi tembaga tercatat Rp 20,7 triliun, diikuti besi Rp 17 triliun. Bauksit menyerap Rp 13,7 triliun, sementara timah hanya Rp 2,5 triliun.
Komoditas lain seperti pasir silika, emas, perak, hingga logam tanah jarang hanya mengumpulkan Rp 2,9 triliun. Hal ini menunjukkan konsentrasi investasi masih sangat berat ke nikel.
Jika ditarik lebih luas, total investasi hilirisasi lintas sektor mencapai Rp 147,5 triliun. Angka ini tumbuh 8,2 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Kontribusi hilirisasi terhadap total investasi nasional mencapai 29,6 persen. Ini menunjukkan peran penting sektor ini dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Di luar mineral, sektor migas mencatat investasi Rp 17,7 triliun. Rinciannya terdiri dari minyak bumi Rp 13,6 triliun dan gas bumi Rp 4,1 triliun.
Sektor perkebunan dan kehutanan menyumbang Rp 29,8 triliun. Sementara perikanan dan kelautan relatif kecil dengan nilai Rp 1,7 triliun.
Rosan melihat tren investasi bauksit mulai menunjukkan peningkatan. Sejumlah proyek hilirisasi baru mulai berjalan dan berpotensi tumbuh dalam waktu dekat.
Meski demikian, dominasi nikel tetap menjadi perhatian. Ketergantungan tinggi pada satu komoditas berisiko jika terjadi fluktuasi harga global atau perubahan permintaan.
Pemerintah kini dihadapkan pada tantangan untuk mendorong diversifikasi. Keseimbangan struktur investasi menjadi kunci keberlanjutan pertumbuhan jangka panjang.













