JAKARTA, Cobisnis.com – Berhenti merokok sering dianggap hanya membutuhkan kemauan yang kuat. Namun, para ahli kesehatan menilai proses tersebut jauh lebih kompleks karena berkaitan dengan ketergantungan nikotin.
Rokok dan rokok elektronik sama-sama mengandung nikotin yang bersifat adiktif. Zat ini dapat memengaruhi sistem saraf sehingga membuat seseorang sulit melepaskan kebiasaan merokok.
Penasihat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Agus Dwi Susanto, mengatakan tantangan terbesar dalam upaya berhenti merokok adalah gejala putus nikotin atau withdrawal syndrome.
Ia menjelaskan bahwa nikotin dapat mencapai otak dalam waktu singkat setelah dihirup. Selanjutnya, zat tersebut merangsang pelepasan dopamin yang memunculkan perasaan nyaman dan senang.
Kondisi itu membuat perokok terdorong untuk terus mengonsumsi rokok. Seiring berjalannya waktu, tubuh juga mulai beradaptasi sehingga membutuhkan asupan nikotin yang lebih banyak.
Saat seseorang menghentikan kebiasaan merokok, tubuh akan memberikan respons karena kehilangan nikotin yang selama ini diterima secara rutin. Respons tersebut memicu berbagai gejala yang kerap mengganggu aktivitas sehari-hari.
Beberapa gejala yang sering muncul antara lain mudah tersinggung, stres, sulit fokus, hingga gangguan tidur. Selain itu, sebagian perokok juga mengalami sakit kepala, nyeri otot, dan keinginan kuat untuk kembali merokok.
Menurut Prof. Agus, kondisi tersebut menjadi alasan mengapa banyak orang gagal mempertahankan komitmennya untuk berhenti merokok.
Karena itu, ia menilai upaya berhenti merokok perlu dilakukan dengan pendekatan yang menyeluruh. Selain mengatasi ketergantungan nikotin, faktor perilaku dan lingkungan juga perlu mendapat perhatian.
Sementara itu, praktisi kesehatan dr. Tirta Mandira Hudhi mengaku pernah menghadapi tantangan serupa saat memutuskan berhenti merokok.
Ia mengambil keputusan tersebut setelah menyadari kondisi kebugaran tubuhnya menurun. Untuk mendukung proses berhenti merokok, ia menerapkan metode cold turkey atau berhenti secara total.
Tak hanya itu, dr. Tirta juga memperkuat komitmennya melalui aktivitas fisik yang rutin. Ia menjalani berbagai olahraga seperti lari, renang, bersepeda, dan latihan beban.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda saat berusaha berhenti merokok. Oleh sebab itu, pendekatan yang digunakan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.
Dalam proses tersebut, tenaga kesehatan kerap merekomendasikan Nicotine Replacement Therapy (NRT) sebagai salah satu solusi yang dapat membantu mengurangi ketergantungan nikotin.
Melalui terapi ini, tubuh tetap memperoleh nikotin dalam jumlah yang terukur tanpa harus terpapar berbagai zat berbahaya yang terdapat dalam asap rokok.
Selain tersedia dalam beberapa bentuk, NRT juga dapat membantu meredakan gejala putus nikotin serta mengurangi keinginan untuk kembali merokok.
Para ahli menilai kombinasi antara kemauan pribadi, dukungan lingkungan, dan terapi yang tepat dapat meningkatkan peluang seseorang untuk berhenti merokok secara permanen.
Di sisi lain, masyarakat juga diingatkan untuk menggunakan produk terapi yang telah memiliki izin edar resmi dari BPOM guna memastikan keamanan dan kualitasnya.
Pemerintah bersama berbagai pihak terus mendorong edukasi mengenai bahaya rokok dan pentingnya berhenti merokok. Salah satunya melalui kampanye nasional #SehatTanpaRokok.
Program yang melibatkan Kementerian Kesehatan, Kenvue, dan Guardian Indonesia itu bertujuan memperluas akses masyarakat terhadap informasi, pendampingan, serta layanan terapi berhenti merokok.
Dengan adanya dukungan tersebut, masyarakat diharapkan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk terbebas dari ketergantungan nikotin dan menjalani hidup yang lebih sehat.













