JAKARTA, Cobisnis.com – Seiring bertambahnya usia, anak mulai memiliki lingkungan pertemanan yang lebih luas. Kondisi ini penting untuk perkembangan sosial, tetapi juga membuat anak berpotensi mendapat pengaruh negatif dari teman sebaya.
Tidak semua ajakan teman membawa dampak baik. Anak bisa saja diajak membolos sekolah, berbohong kepada orang tua, atau melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai yang diajarkan di rumah.
Menolak ajakan tersebut juga tidak selalu mudah bagi anak. Mereka bisa merasa takut dianggap berbeda, dijauhi, atau tidak diterima dalam kelompok pertemanan.
Karena itu, orang tua perlu membekali anak dengan kemampuan untuk mengatakan tidak. Kemampuan ini dapat membantu anak mengambil keputusan secara mandiri dan membangun rasa percaya diri.
1. Tetapkan batasan yang jelas
Anak perlu memahami tindakan yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Orang tua dapat melibatkan anak saat membuat aturan di rumah sekaligus menjelaskan alasan di balik aturan tersebut.
Batasan perlu diterapkan secara konsisten dengan tetap menyesuaikan usia dan perkembangan anak. Dengan begitu, anak memiliki pegangan ketika menghadapi pilihan yang sulit.
2. Jadilah teladan bagi anak
Anak banyak belajar dari perilaku orang tua. Karena itu, orang tua dapat menunjukkan cara menghadapi tekanan sosial dan mengambil keputusan yang tepat.
Pengalaman pribadi juga dapat dibagikan kepada anak, termasuk kesalahan yang pernah dilakukan dan pelajaran yang diperoleh. Cara ini membantu anak memahami bahwa kesalahan dapat menjadi bagian dari proses belajar.
3. Bantu anak mengenali nilai yang diyakininya
Orang tua dapat mengajak anak berdiskusi mengenai hal yang dianggap penting dalam kehidupan. Anak perlu memahami nilai dan prinsip yang ingin mereka pegang.
Pemahaman tersebut dapat menjadi pedoman ketika anak menghadapi ajakan yang bertentangan dengan prinsipnya. Anak juga akan lebih percaya diri dalam menentukan pilihan.
4. Ajarkan berpikir kritis
Anak perlu dibiasakan untuk tidak langsung mengikuti ajakan teman. Mereka dapat diajak mempertimbangkan dampak dan konsekuensi sebelum mengambil keputusan.
Orang tua bisa mengajak anak membahas apa yang mungkin terjadi jika mereka mengikuti ajakan tertentu. Anak juga dapat diarahkan untuk menilai apakah keputusan tersebut sesuai dengan nilai yang diyakininya.
5. Bangun komunikasi yang terbuka
Komunikasi yang terbuka membuat anak merasa aman untuk bercerita kepada orang tua. Hal ini penting ketika mereka menghadapi tekanan atau masalah dalam pertemanan.
Orang tua sebaiknya tidak langsung menghakimi atau memarahi ketika anak bercerita. Ketika merasa didengar dan diterima, anak akan lebih mudah meminta bantuan saat menghadapi situasi sulit.
Membiasakan anak berani berkata tidak membutuhkan proses dan pendampingan yang konsisten. Dengan dukungan tersebut, anak dapat tumbuh lebih percaya diri, mandiri, dan mampu mengambil keputusan sesuai nilai yang diyakininya.













