JAKARTA, Cobisnis.com – Kemampuan berbicara menjadi salah satu tonggak penting dalam tumbuh kembang anak. Tak heran, banyak orang tua mencari berbagai cara agar anak lebih cepat mengucapkan kata pertamanya.
Di sejumlah negara, berkembang berbagai kepercayaan turun temurun yang diyakini dapat membantu anak lebih cepat berbicara. Praktiknya beragam, mulai dari menggosok lidah dengan cincin emas hingga mandi di bawah air hujan.
Di Indonesia, salah satu mitos yang berkembang adalah menggosok atau mengetukkan cincin emas asli ke lidah bayi. Ada pula kepercayaan menyentuhkan paruh burung gereja ke lidah anak agar lebih banyak berbicara.
Kepercayaan lain menyebut pemberian rempela atau lambung ayam dapat membantu memperkuat organ bicara anak. Namun, praktik tersebut belum didukung bukti ilmiah sebagai cara mempercepat kemampuan berbicara.
Di Malaysia, terdapat tradisi menyapu lidah anak menggunakan daun sirih yang telah diberi sedikit kapur sirih. Cara tersebut dipercaya dapat membuat lidah tidak kaku sehingga anak lebih mudah berbicara.
Sementara di beberapa daerah India, bayi dipercaya lebih cepat berbicara jika lidahnya diolesi campuran madu dan tanaman herbal vacha atau sweet flag. Ada pula kepercayaan memberikan air dari bel atau lonceng kuningan di kuil.
Di Tiongkok, mitos lama menyebut tali lidah yang pendek sebagai penyebab anak terlambat berbicara. Pemotongan jaringan di bawah lidah kemudian pernah dilakukan, meski kini tindakan tersebut hanya dilakukan berdasarkan indikasi medis pada kondisi tongue tie atau ankiloglosia.
Di sejumlah wilayah Afrika, termasuk Nigeria, berkembang kepercayaan bahwa anak yang mandi atau berdiri di bawah air hujan pertama saat pergantian musim akan memiliki suara lebih lantang dan fasih berbicara.
Sementara itu, beberapa budaya Eropa kuno memiliki pantangan memberikan telur kepada anak yang belum bisa berbicara. Telur dipercaya dapat membuat lidah menjadi berat sehingga anak lebih lambat mengucapkan kata pertama.
Hingga kini, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan ritual tersebut dapat mempercepat kemampuan berbicara anak. Perkembangan bahasa dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kematangan otak, kemampuan pendengaran, kondisi kesehatan, serta kualitas interaksi dengan lingkungan.
Orang tua justru dianjurkan memberikan stimulasi sejak dini dengan mengajak anak berbicara, membacakan buku, merespons celotehan, bernyanyi, dan bermain secara interaktif. Penggunaan screen time juga perlu dibatasi sesuai usia anak.
Jika anak menunjukkan keterlambatan berbicara dibandingkan tahapan perkembangan usianya, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak atau terapis wicara. Penanganan sejak dini dapat membantu menemukan penyebab dan menentukan intervensi yang sesuai.













