JAKARTA, Cobisnis.com – Aktivitas olahraga selama ini dikenal sebagai salah satu cara terbaik untuk mendukung kesehatan mental anak. Namun, sebagian orang tua tanpa sadar mengubah pengalaman positif tersebut menjadi sumber tekanan yang merugikan.
Seorang dokter anak menceritakan pengalamannya ketika putra sulungnya yang baru berusia 4 tahun mendapat undangan untuk bergabung dengan liga basket eksklusif. Kompetisi itu diikuti anak-anak berusia 5 hingga 6 tahun.
Saat itu, keluarga tersebut merasa sangat antusias. Anak mereka memang menunjukkan kemampuan bermain basket yang menonjol dibanding teman-teman seusianya.
Sebelumnya, ia bermain dalam tim lokal bersama anak-anak berusia 3 hingga 4 tahun. Selain itu, ia sering menjadi pemain terbaik dalam kelompoknya.
Karena ingin memberikan tantangan baru, kedua orang tuanya memutuskan memasukkannya ke lingkungan yang lebih kompetitif. Mereka berharap sang anak bisa terus berkembang dengan bermain bersama anak-anak yang lebih tua dan berbakat.
Ayah anak tersebut merupakan mantan pemain basket tingkat perguruan tinggi. Sementara itu, sang ibu berprofesi sebagai dokter anak.
Keduanya membayar biaya keanggotaan dan menyesuaikan jadwal agar bisa mengantar putra mereka berlatih setiap minggu. Pada awalnya, keputusan itu terlihat tepat.
Anak tersebut sangat bersemangat mengenakan seragam tim barunya. Selain itu, ia mampu menunjukkan kemampuan menggiring bola yang mengesankan dan mencetak tembakan yang gagal dilakukan beberapa pemain yang lebih tua.
Namun, situasi mulai berubah ketika latihan menjadi lebih kompleks. Di sisi lain, kemampuan kognitif anak berusia 4 tahun belum berkembang sepenuhnya untuk mengikuti instruksi yang lebih rumit.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda. Meski tantangan penting untuk pertumbuhan, orang tua juga perlu mempertimbangkan kesiapan fisik dan emosional anak.
Selain itu, para ahli menilai olahraga seharusnya membantu anak membangun rasa percaya diri, menjalin pertemanan, dan menikmati proses belajar. Jika tekanan untuk berprestasi terlalu besar, manfaat tersebut bisa berkurang dan bahkan berdampak negatif pada kesehatan mental anak.













