JAKARTA, Cobisnis.com – Ketegangan pembahasan ekspor gas Indonesia ke Singapura ikut memicu perbincangan mengenai ketergantungan infrastruktur digital Indonesia. Mantan anggota parlemen Singapura, Calvin Cheng Ern Lee, mengunggah infografis tentang konektivitas internet Indonesia dengan komentar singkat, “Potong?”
Unggahan tersebut muncul di tengah memanasnya isu pengurangan ekspor gas Indonesia ke Singapura. Namun, komentar Calvin merupakan pernyataan pribadi di media sosial, bukan ancaman atau keputusan resmi Pemerintah Singapura.
Calvin kemudian menegaskan bahwa Singapura tidak akan memutus jaringan internet tersebut karena menghormati hukum. Pernyataan ini menempatkan unggahannya sebagai sindiran di tengah perbincangan mengenai hubungan kedua negara.
Di balik polemik tersebut, ketergantungan infrastruktur internet Indonesia menjadi persoalan strategis. Kementerian Komunikasi dan Digital menyebut sekitar 90% trafik internet internasional Indonesia masih bergantung pada konektivitas melalui Singapura.
Indonesia memiliki 30 kabel bawah laut internasional dan hampir seluruhnya terhubung ke Singapura. Kondisi ini menunjukkan pentingnya negara tersebut dalam mendukung lalu lintas data internasional Indonesia.
Meski begitu, ketergantungan tersebut tidak otomatis berarti Singapura bisa mematikan internet Indonesia secara sepihak. Namun, konsentrasi jalur konektivitas tetap menyimpan risiko apabila terjadi gangguan teknis, kerusakan infrastruktur, atau konflik kebijakan.
Gangguan pada jalur utama dapat memengaruhi kelancaran pertukaran data lintas negara. Dampaknya berpotensi dirasakan berbagai sektor yang mengandalkan koneksi internasional, mulai dari layanan digital hingga aktivitas bisnis.
Situasi ini memperkuat urgensi bagi Indonesia untuk mengembangkan jalur konektivitas alternatif. Diversifikasi kabel bawah laut yang terhubung langsung ke negara lain dapat membantu mengurangi ketergantungan pada satu simpul jaringan.
Selain itu, penguatan pusat data domestik dan konektivitas antarpulau menjadi bagian penting dalam membangun infrastruktur digital yang lebih tangguh. Upaya tersebut perlu berjalan seiring dengan perencanaan jaringan internasional yang lebih beragam.
Perbincangan ini menunjukkan bahwa hubungan antarnegara tidak hanya berkaitan dengan perdagangan energi, tetapi juga infrastruktur digital. Bagi Indonesia, memperkuat konektivitas alternatif menjadi langkah strategis untuk menjaga ketahanan jaringan dan mengurangi risiko akibat ketergantungan pada jalur tertentu.













