JAKARTA, Cobisnis.com – Israel menyampaikan keprihatinan keamanan kepada Amerika Serikat terkait usulan kesepakatan pelucutan senjata Hamas di Jalur Gaza, Palestina.
Juru bicara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Doron Spielman, mengatakan Israel tidak akan menarik pasukannya dari Gaza sebelum Hamas menyerahkan seluruh persenjataannya.
“Penilaian kami adalah bahwa jika kami melakukan penarikan pasukan sebelum Hamas benar-benar dilucuti, mereka akan dengan cepat kembali memperluas kehadirannya di seluruh Gaza,” ujar Spielman kepada AP pada Minggu.
Menurut Spielman, Israel khawatir Hamas kembali membangun kekuatan dan melancarkan serangan seperti peristiwa 7 Oktober. Karena itu, Israel menilai pelucutan senjata harus dilakukan secara nyata.
“Pelucutan senjata berarti menyerahkan senjata secara fisik. Tidak ada definisi lain selain itu,” kata Spielman, dikutip Al Jazeera.
Di sisi lain, pejabat senior Hamas Ghazi Hamad mengonfirmasi bahwa kelompoknya telah mencapai kesepakatan dengan Board of Peace atau BoP untuk melucuti senjata.
BoP merupakan badan yang dibentuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membantu menyelesaikan konflik di Jalur Gaza. Namun, Hamas menyatakan pelaksanaan pelucutan senjata masih bergantung pada sejumlah syarat.
Hamad mengatakan keputusan Hamas berkaitan dengan penempatan Pasukan Stabilisasi Internasional atau ISF di Gaza. Hamas juga mensyaratkan Israel memenuhi seluruh kewajibannya dalam perjanjian gencatan senjata pada Oktober lalu.
Perbedaan sikap tersebut menunjukkan masih adanya persoalan keamanan dan pelaksanaan kesepakatan di lapangan. Israel menekankan pelucutan senjata Hamas sebagai syarat utama sebelum penarikan pasukan.
Sementara itu, Hamas mengaitkan pelucutan senjata dengan kehadiran pasukan internasional dan kepatuhan Israel terhadap kesepakatan yang telah dibuat. Kedua posisi tersebut menjadi bagian penting dalam pembahasan lanjutan mengenai masa depan Gaza.
Kesepakatan pelucutan senjata menjadi salah satu isu sensitif dalam upaya penyelesaian konflik Gaza. Perbedaan persyaratan dari Israel dan Hamas berpotensi memengaruhi proses implementasi kesepakatan tersebut.













