JAKARTA, Cobisnis.com – Volkswagen akhirnya menghentikan proyek mobil terbang bertenaga baterai di China setelah berjalan selama sekitar lima tahun. Proyek tersebut kandas di tengah persaingan industri mobilitas udara yang semakin ketat.
Proyek ini dimulai Volkswagen pada 2019 melalui tim startup internal yang berbasis di Beijing. VW awalnya membidik kendaraan udara futuristik untuk mengangkut empat penumpang antara kota seperti Beijing dan Tianjin.
Volkswagen melihat sektor eVTOL atau kendaraan lepas landas dan mendarat secara vertikal sebagai pasar yang memiliki potensi besar. Porsche Consulting, unit konsultasi VW, sebelumnya memperkirakan industri tersebut dapat bernilai US$32 miliar pada 2035.
Namun, China bergerak lebih cepat dalam mengembangkan sektor yang disebut ekonomi ketinggian rendah. Sektor ini mencakup drone, taksi udara, serta berbagai layanan penerbangan di bawah ketinggian 1.000 meter.
VW sempat menjajaki kerja sama dengan sejumlah perusahaan lokal. Pada 2021, perusahaan memilih startup Shanghai Pantuo Aviation untuk mengembangkan purwarupa bernama Pantala.
Dalam evaluasi VW dan mitranya, desain Pantala dinilai memiliki risiko yang tidak terkendali. Performa aerodinamikanya dianggap buruk dan jangkauannya berada jauh di bawah target yang ditetapkan.
Kerja sama dengan Pantuo kemudian berakhir dalam sengketa hukum terkait dugaan pencurian rahasia dagang. VW menyatakan tidak memberikan komentar publik mengenai perkara tersebut, tetapi menegaskan klaim terhadap perusahaan dinilai tidak berdasar.
Volkswagen kemudian beralih ke Hunan Sunward Technology pada 2022. Dari kerja sama tersebut lahir beberapa purwarupa, termasuk Flying Tiger dan Sky Garden.
Pada Oktober 2023, VW kembali menggandeng Wanfeng Auto Holding Group untuk mempersiapkan rencana peluncuran kendaraan tersebut ke pasar. Namun, proyek akhirnya dihentikan pada 2024.
Pada Maret 2024, komite manajemen puncak VW membahas rencana membawa mobil terbang ke pasar. Kekhawatiran mengenai panjangnya jalan menuju keuntungan serta persaingan dengan perusahaan seperti Xpeng dan Geely ikut menjadi pertimbangan.
Keputusan akhir kemudian berada di tangan kepala VW China, Ralf Brandstaetter. Ia memilih agar perusahaan kembali fokus pada bisnis inti di tengah penurunan penjualan mobil penumpang di China.
Tim proyek akhirnya dibubarkan pada Juni 2024. Keputusan tersebut juga disampaikan kepada mitra Wanfeng melalui pesan WeChat.
Penghentian proyek terjadi ketika bisnis Volkswagen di China juga menghadapi tekanan. Pengiriman kendaraan VW di negara tersebut turun dari puncaknya 4,2 juta unit pada 2019 menjadi 2,7 juta unit pada 2025.
Penurunan tersebut membuat posisi Volkswagen turun ke peringkat ketiga di China, berada di belakang BYD dan Geely. Tekanan bisnis juga diperburuk oleh biaya tarif Amerika Serikat serta persoalan pada jaringan manufaktur VW di Jerman.
CEO konsultan NexAvian sekaligus mantan kepala China di produsen taksi udara Volocopter, Emerson Xu, menilai pengalaman Volkswagen menunjukkan kerasnya persaingan di industri mobilitas China.
“Kalau Anda tidak cukup lokal, tidak lebih cepat atau setidaknya secepat orang China, Anda tidak punya peluang,” kata Xu.













