JAKARTA, Cobisnis.com – Konflik antara Iran dan blok AS-Israel semakin memanas, memicu lonjakan harga minyak global hingga hampir $120 per barel. Serangan terhadap infrastruktur energi Iran dan pengumuman pemimpin tertinggi baru memperkuat ketegangan di kawasan Teluk.
Harga minyak kemudian berfluktuasi, sempat turun ke bawah $90 per barel, tetapi tetap lebih dari 20% lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik pecah. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan pasokan energi global.
Penutupan de facto Selat Hormuz oleh Iran menambah risiko serius. Jalur laut sempit ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab, dan sekitar sepertiga pasokan minyak dunia melewatinya.
Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, UEA, Qatar, Kuwait, dan Bahrain langsung terdampak. Kapasitas penyimpanan minyak terbatas membuat penghentian produksi bisa terjadi dalam hitungan hari jika konflik berlanjut.
Irak, dengan kapasitas penyimpanan hanya enam hari, diperkirakan mulai memangkas produksi hingga 1,5 juta barel per hari. Saudi dan UEA mengalihkan sebagian ekspor melalui jalur alternatif, tetapi kapasitasnya hanya menampung sebagian dari volume normal.
Saudi Aramco menurunkan produksi hingga 2,5 juta barel per hari, UEA 500.000–800.000 barel, dan Kuwait sekitar 500.000 barel. Irak diperkirakan memangkas 2,9 juta barel per hari. Pemangkasan ini diperkirakan akan terus meningkat jika konflik tidak segera mereda.
Serangan drone Iran telah menargetkan kilang-kilang besar, termasuk Ras Tanura di Saudi dan Ras Laffan di Qatar, menyebabkan penghentian operasional dan force majeure pada beberapa ekspor.
Kementerian Pertahanan Saudi menyatakan sistem pertahanan mereka mencegat beberapa drone yang menuju ladang minyak Shaybah, sementara Presiden AS Donald Trump menyebut perang akan berakhir “sangat segera,” meski serangan Iran masih terus terjadi.
Jika produksi Teluk berhenti total, harga minyak bisa melonjak ke $150 per barel, menurut Menteri Energi Qatar. Bank dan analis global menilai gangguan berkepanjangan akan mengubah pasar dari surplus menjadi defisit, memicu ketidakstabilan ekonomi dunia.
Pemerintah dan perusahaan energi global terus memantau situasi, sementara kapasitas penyimpanan yang terbatas membuat setiap eskalasi berpotensi menghentikan produksi. Pasokan minyak dunia kini berada di ujung tanduk.













