JAKARTA, Cobisnis.com — Rupiah menguat pada penutupan perdagangan Rabu, 13 Mei 2026. Selain itu, penguatan terjadi menjelang libur panjang akhir pekan.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah naik 53 poin atau 0,30 persen. Dengan demikian, kurs berada di level Rp17.475 per dolar Amerika Serikat.
Namun demikian, pasar global masih menghadapi ketidakpastian. Investor mencermati ketegangan di Selat Hormuz. Selain itu, hubungan Amerika Serikat dan Iran ikut menekan sentimen pasar.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut harga energi global masih tinggi. Akibatnya, inflasi di Amerika Serikat ikut meningkat.
Ia mencatat, indeks harga konsumen (IHK) AS naik 0,6 persen pada April 2026. Sementara itu, inflasi tahunan mencapai 3,8 persen. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak pertengahan 2023.
Selanjutnya, pelaku pasar menunggu data Indeks Harga Produsen (PPI) AS. Data ini akan memberi sinyal arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve.
Selain itu, pasar mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun ini.
Investor juga mencermati rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Keduanya akan bertemu di Beijing pada 14–15 Mei 2026. Pertemuan ini membahas perdagangan dan geopolitik global.
Di dalam negeri, pasar fokus pada posisi utang pemerintah Indonesia. Hingga akhir Maret 2026, utang mendekati Rp10.000 triliun.
Meski begitu, rasio utang terhadap PDB masih 40,75 persen. Angka ini masih berada di bawah batas aman undang-undang.
Terakhir, Bank Indonesia memastikan intervensi pasar tetap berjalan. Langkah ini menjaga stabilitas rupiah selama libur panjang.













