JAKARTA, Cobisnis.com – Rencana IPO SpaceX menjadi salah satu peristiwa paling disorot di pasar keuangan global karena skala dan valuasinya yang sangat besar. Aksi penawaran saham perdana ini dijadwalkan berlangsung pada 12 Juni 2026 di bursa Nasdaq.
Perusahaan milik Elon Musk itu menargetkan penghimpunan dana sekitar US$75 miliar dari penjualan ratusan juta saham kepada publik. Harga saham perdana ditetapkan di level US$135 per lembar tanpa rentang harga seperti IPO pada umumnya.
Dengan struktur tersebut, SpaceX membidik valuasi sekitar US$1,77 triliun hingga US$1,8 triliun atau setara hampir Rp29.000 triliun. Angka ini menempatkan SpaceX sebagai salah satu perusahaan teknologi dengan nilai pasar terbesar di dunia.
Sekitar 4,3 persen saham perusahaan akan dilepas ke publik sehingga porsi free float tergolong kecil. Kondisi ini berpotensi menciptakan tekanan permintaan tinggi saat saham mulai diperdagangkan di pasar.
Sejumlah analis menilai minat investor didorong ekspektasi pertumbuhan bisnis SpaceX di sektor antariksa dan layanan internet satelit melalui Starlink. Ekspansi ke kecerdasan buatan juga menjadi faktor tambahan yang memperkuat prospek perusahaan.
Namun, laporan keuangan menunjukkan SpaceX masih mencatat kerugian bersih sekitar US$4,94 miliar pada 2025, meski pendapatan naik menjadi US$18,67 miliar. Kondisi ini membuat valuasi perusahaan dinilai sangat tinggi dibandingkan emiten teknologi lain.
Meski demikian, IPO ini diperkirakan tetap menjadi magnet besar bagi investor global. Jika terealisasi, SpaceX berpotensi menjadi salah satu IPO terbesar dalam sejarah pasar modal dunia.













