JAKARTA, Cobisnis.com – Kesepakatan nuklir antara Arab Saudi dan Amerika Serikat memicu kekhawatiran baru di Timur Tengah. Sejumlah pengamat menilai perjanjian tersebut berpotensi mendorong perlombaan senjata di kawasan.
Selama dua dekade terakhir, Arab Saudi terus berupaya mengembangkan teknologi nuklir. Kini, kesepakatan dengan Washington menjadi langkah penting untuk mewujudkan ambisi tersebut.
Namun, sejumlah pihak menilai situasi kawasan semakin sensitif. Pasalnya, konflik antara Amerika Serikat dan Iran sebelumnya telah meningkatkan ketegangan terkait program nuklir di Timur Tengah.
Bagian yang paling menuai sorotan adalah opsi bagi Arab Saudi untuk memperkaya uranium di wilayahnya sendiri. Selain itu, aktivitas tersebut disebut akan memiliki pengawasan yang lebih terbatas dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Karena itu, sejumlah analis di Iran, Israel, dan Amerika Serikat menyampaikan kekhawatiran terhadap dampak jangka panjang perjanjian tersebut. Mereka menilai kebijakan itu dapat mengubah keseimbangan strategis di kawasan.
Sementara itu, di Iran muncul beragam tanggapan terhadap kesepakatan tersebut. Beberapa pejabat bahkan menyambut kemungkinan meningkatnya persaingan kemampuan nuklir di Timur Tengah.
Mereka mempertanyakan alasan Arab Saudi dapat memperoleh kemampuan nuklir, sementara Iran menghadapi berbagai pembatasan setelah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Meski begitu, pandangan tersebut tidak mewakili seluruh sikap pemerintah Iran.
Di sisi lain, para pengamat menilai perkembangan ini akan menjadi perhatian dunia internasional. Selain itu, komunitas global diperkirakan terus memantau implementasi kesepakatan tersebut untuk mencegah meningkatnya risiko proliferasi nuklir di Timur Tengah.













