JAKARTA, Cobisnis.com – Sendok kayu semakin populer sebagai alternatif alat makan yang dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan plastik. Namun, di balik tampilannya yang alami, peralatan ini ternyata memiliki risiko kesehatan apabila tidak dirawat dengan benar.
Praktisi bisnis lingkungan Bang Sap menjelaskan bahwa anggapan semua produk alami pasti aman tidak sepenuhnya benar. Menurutnya, sendok kayu dapat menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme karena memiliki permukaan yang berpori.
“Sendok kayu yang kita pikir aman, ternyata sama bahayanya dengan sendok plastik,” ujar Bang Sap. Ia menegaskan bahwa risiko utamanya bukan berasal dari bahan kimia, melainkan dari sifat alami kayu yang mudah menyerap sisa makanan.
Sisa minyak, bumbu, aroma, dan makanan dapat masuk ke pori-pori kayu selama digunakan. Jika hanya dibilas, direndam terlalu lama, atau disimpan dalam kondisi lembap, celah tersebut bisa menjadi tempat tumbuhnya bakteri dan jamur.
Selain memicu pertumbuhan mikroorganisme, perawatan yang kurang tepat juga dapat menyebabkan sendok kayu retak, berubah warna, hingga mengeluarkan bau tidak sedap. Kondisi tersebut membuat alat makan semakin sulit dibersihkan secara menyeluruh.
Bang Sap menyebut material kayu yang lembap lebih mudah ditumbuhi jamur sehingga perlu dikeringkan dengan baik setelah dicuci. Ia juga mengingatkan bahwa sendok kayu yang sudah retak atau berjamur sebaiknya segera diganti demi menjaga keamanan pangan.
Meski demikian, sendok kayu tidak berarti berbahaya jika digunakan secara benar dan dirawat secara rutin. Para ahli menyebut alat makan ini tetap aman selama kondisinya masih baik, dicuci menggunakan sabun, dan dikeringkan hingga benar-benar kering sebelum disimpan.
Karena itu, memilih sendok kayu tidak cukup hanya mempertimbangkan aspek ramah lingkungan semata. Perawatan yang tepat menjadi kunci agar alat makan tersebut tetap higienis, awet, dan aman digunakan dalam aktivitas sehari-hari.













