JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Prabowo Subianto meminta masyarakat tetap tenang dan waspada menghadapi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Masyarakat juga diminta mengikuti informasi dari pemerintah dan lembaga resmi terkait.
Arahan tersebut disampaikan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari dalam konferensi pers daring pada Minggu, 6 September 2026. Pemerintah terus memantau perkembangan erupsi dan dampaknya terhadap masyarakat.
Prabowo meminta warga menjalankan prosedur keselamatan selama abu vulkanik masih turun. Masyarakat yang beraktivitas di luar rumah dianjurkan menggunakan masker untuk melindungi hidung dan mulut.
Warga juga diminta menggunakan kacamata pelindung ketika berada di luar ruangan. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko abu vulkanik masuk ke mata dan menyebabkan iritasi.
Selain perlindungan diri, masyarakat diminta menutup pintu dan jendela rumah dengan rapat. Tempat penampungan air bersih juga perlu ditutup untuk mencegah terkontaminasi abu vulkanik.
Pemerintah turut mengingatkan masyarakat untuk mencukupi kebutuhan air minum serta mencuci tangan dan wajah setelah beraktivitas di luar rumah. Langkah sederhana tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi paparan abu vulkanik.
Pemerintah memastikan penanganan erupsi dilakukan berdasarkan data dan informasi dari sejumlah lembaga terkait. Pemantauan melibatkan PVMBG, BMKG, BNPB, Kementerian Perhubungan, Kementerian Kesehatan, serta instansi lainnya.
Masyarakat juga diminta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Pemerintah secara khusus mengingatkan warga untuk tidak meneruskan kabar mengenai potensi tsunami apabila informasi tersebut tidak berasal dari sumber resmi.
Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi sejak Jumat malam, 4 September 2026 hingga Minggu, 6 September 2026. Sebaran abu vulkanik berdampak pada sejumlah wilayah, terutama Lampung, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta.
Berdasarkan pemantauan BMKG, sebaran abu vulkanik bergerak dalam dua arah. Sebaran pertama bergerak ke arah timur laut hingga selatan yang mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya.
Sebaran kedua bergerak ke arah barat daya hingga barat laut. Wilayah yang terdampak mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten.











