JAKARTA, Cobisnis.com — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau berlangsung pada Juli hingga September 2026. Kondisi cuaca yang lebih kering berpotensi menekan hasil pertanian di sejumlah wilayah.
Petani di beberapa daerah mulai melaporkan dampak kekeringan sejak pertengahan tahun. Karena itu, pelaku sektor pertanian diminta menyiapkan langkah antisipasi lebih awal.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, tanaman padi menjadi komoditas yang paling rentan terdampak. Tanaman tersebut membutuhkan pasokan air lebih tinggi dibanding sebagian tanaman pangan lainnya.
Perwakilan Serikat Petani Indonesia (SPI) menyebut hasil panen berpotensi mengalami penurunan apabila kondisi kering berlangsung lebih lama. Selain itu, pengalaman musim sebelumnya menunjukkan produksi dapat turun cukup signifikan.
Untuk mengurangi risiko, petani mulai menerapkan pola tanam yang lebih adaptif. Mereka juga mendorong penggunaan komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi kering.
Jagung, singkong, ubi jalar, dan sorgum menjadi pilihan yang mulai dipertimbangkan. Tanaman tersebut dinilai lebih mampu bertahan pada periode minim curah hujan.
Sementara itu, pemerintah memperkuat langkah antisipasi melalui sektor irigasi dan pengelolaan air. Fokus utama diarahkan pada wilayah yang memiliki risiko kekeringan lebih tinggi.
Selain memperluas dukungan irigasi, pemerintah juga mendorong penggunaan benih tahan kekeringan dan pemupukan yang lebih seimbang. Langkah tersebut diharapkan menjaga stabilitas produksi serta memperkuat ketahanan pangan nasional selama musim kemarau 2026.













