JAKARTA, Cobisnis.com – Pemerintah menyiapkan tambahan subsidi energi hingga Rp 100 triliun untuk meredam dampak lonjakan harga minyak dunia terhadap APBN.
Tambahan ini difokuskan pada subsidi BBM sebesar Rp 90–100 triliun, di luar kompensasi energi. Angkanya masih sementara dan menunggu perkembangan harga minyak global.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut ruang fiskal masih cukup aman dalam jangka pendek. Pemerintah akan mengandalkan efisiensi belanja kementerian dan lembaga sebagai langkah utama.
Penghematan dilakukan bertahap dengan memangkas program yang dinilai tidak prioritas. Cara ini dipilih agar tidak mengganggu program utama pemerintah.
Selain itu, pemerintah masih memiliki cadangan SAL sekitar Rp 420 triliun. Namun, dana ini belum menjadi opsi utama untuk saat ini.
Tekanan APBN mulai terasa seiring harga minyak di kisaran US$ 118 per barel dan rupiah mendekati Rp 16.975 per dolar AS. Kondisi ini otomatis meningkatkan beban subsidi energi.
Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai tekanan fiskal sudah cukup berat. Menahan harga BBM dinilai akan terus memperbesar beban subsidi.
Ia memperkirakan, jika harga minyak rata-rata mencapai US$ 100 per barel, kebutuhan subsidi bisa melonjak hingga Rp 300–400 triliun dalam setahun.
Tambahan subsidi saat ini dinilai hanya sebagai bantalan sementara. Jika harga minyak tetap tinggi, ruang fiskal bisa semakin tertekan.
Pemerintah kini berada di posisi menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan kesehatan APBN di tengah tekanan global.













