JAKARTA, Cobisnis.com – Korea Selatan mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah pengamatan cuaca setelah Kota Yangsan mencapai 42,5 derajat Celsius pada Minggu, 2 Agustus 2026. Rekor tersebut diumumkan oleh Badan Meteorologi Korea atau Korea Meteorological Administration.
Suhu ekstrem itu tercatat pada pukul 13.26 waktu setempat. Angka tersebut menjadi rekor nasional baru yang memecahkan catatan suhu tertinggi dalam lebih dari satu abad pengamatan cuaca di negara tersebut.
Yangsan menjadi wilayah yang paling terdampak gelombang panas. Selama lima hari berturut turut, kota yang berada di bagian tenggara Korea Selatan itu mencatat suhu di atas 40 derajat Celsius.
Gelombang panas juga meluas ke berbagai wilayah lain. Sejumlah kota mengalami suhu antara 30 derajat hingga lebih dari 39 derajat Celsius sehingga pemerintah mengeluarkan peringatan cuaca panas di banyak daerah.
Pada Minggu, lebih dari 20 wilayah berstatus darurat gelombang panas. Kategori peringatan baru ini mulai diterapkan pemerintah Korea Selatan sejak 2026 sebagai respons terhadap cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.
Status darurat tersebut diberlakukan ketika suhu yang dirasakan mencapai 38 derajat Celsius atau suhu aktual menyentuh 39 derajat Celsius selama sedikitnya satu hari. Kebijakan ini menjadi bagian dari sistem mitigasi terhadap risiko kesehatan akibat panas ekstrem.
Data KMA menunjukkan tren gelombang panas terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Rata rata hari gelombang panas kini mencapai sekitar 19 hari per tahun, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan dekade 1970 an yang hanya sekitar delapan hari.
Menurut KMA, hari gelombang panas didefinisikan ketika suhu maksimum mencapai sedikitnya 33 derajat Celsius. Sementara malam tropis terjadi saat suhu terendah tetap berada di atas 25 derajat Celsius.
Kondisi tersebut membuat masyarakat menghadapi suhu tinggi bukan hanya pada siang hari, tetapi juga sepanjang malam. Dampaknya, risiko gangguan kesehatan akibat paparan panas meningkat, terutama bagi kelompok rentan.
Para ilmuwan menilai meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem berkaitan dengan perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia. Kenaikan suhu global membuat musim panas semakin panjang, meningkatkan konsumsi energi, mengganggu sektor pertanian, dan memperbesar potensi kebakaran hutan.













