JAKARTA, Cobisnis.com – Pulau Zavodovski di Kepulauan Sandwich Selatan, Antartika, dulunya merupakan rumah bagi koloni penguin chinstrap, penguin koloni terbesar di dunia.
Namun kini, hampir dua pertiga populasi penguin chinstrap di pulau itu menghilang hanya dalam waktu 14 tahun.
Dulunya pulau tersebut merupakan rumah bagi koloni penguin terbesar di dunia. Namun kini, jumlah penguin chinstrap-nya anjlok. Menurut para peneliti, penurunan jumlah populasi tersebut dikarenakan adanya perubahan iklim dan dampaknya terhadap pasokan makanan penguin-penguin tersebut.
Menurut penelitian British Antarctic Survey (BAS), jumlah penguin chinstrap yang berkembang biak di pulau itu turun dari sekitar 1,09 juta pada Januari 2011 menjadi hanya 402.000 pada 2025. Itu berarti penurunan hampir 63 persen, atau lebih dari 680 ribu individu yang berkembang biak.
Penulis utama studi, Norman Ratcliffe, menggambarkan penurunan tersebut sebagai “sangat cepat”.
Keruntuhan tersebut juga menyebabkan Pulau Zavodovski kehilangan gelar lamanya sebagai koloni penguin terbesar di dunia. Gelar itu kini dimiliki oleh koloni penguin Adélie di Tanjung Adare, di sisi Antartika yang berlawanan, yang diperkirakan memiliki lebih dari satu juta burung pada 2018.
Mengapa penguin chinstrap kesulitan mencari makanan?
Masalahnya mungkin bermuara pada hal yang sederhana, yaitu makanan mereka berpindah tempat, dan penguin kesulitan untuk mengikutinya.
Penguin chinstrap terutama memakan krill Antartika, makhluk kecil mirip udang yang hidup di lautan dan merupakan bagian penting dari rantai makanan Antartika.
Seiring meningkatnya suhu laut, krill telah berpindah lebih jauh ke selatan menuju perairan yang lebih dingin. Hal ini menciptakan situasi sulit bagi penguin chinstrap, yang tidak mudah mentolerir habitat yang lebih dingin tersebut.
Penguin-penguin tersebut dihadapkan pada dua pilihan yang kurang menarik, mengikuti makanan mereka ke perairan yang mungkin tidak cocok untuk mereka, atau tetap berada di habitat biasanya dan berisiko kelaparan.
Jadi, para peneliti meyakini bahwa perubahan iklim kemungkinan besar menjadi penyebab gangguan pada rantai makanan ini.
“Kami pikir perubahan iklim yang beroperasi melalui rantai makanan mungkin merupakan pendorong utamanya,” kata Ratcliffe dikutip dari Indianexpress, Selasa (20/10/2026).
Menurut laporan tersebut, wiayah yang lebih luas juga mengalami pemanasan yang signifikan. Suhu musim dingin di sekitar Semenanjung Antartika telah meningkat 5 derajat Celcius.
Para peneliti BAS melakukan perjalanan selama 15 hari untuk mencapai pulau terpencil itu dan menggunakan drone untuk mensurvei penguin dan menilai skala penurunan populasinya.
Temuan tersebut telah menimbulkan kekhawatiran tentang masa depan spesies ini, dengan para peneliti menyarankan bahwa penguin chinstrap mungkin sekarang memenuhi syarat sebagai spesies yang terancam punah.
Namun, hal ini saja tidak membuktikan bahwa mereka telah secara resmi diklasifikasikan sebagai spesies yang terancam punah.
Taruhannya sangat besar karena Kepulauan Sandwich Selatan adalah rumah bagi sekitar 38 persen populasi penguin chinstrap di dunia.
Meskipun para peneliti menganggap perubahan iklim dan dampaknya pada rantai makanan sebagai penjelasan yang paling masuk akal untuk penurunan tersebut, temuan ini menyoroti bagaimana pemanasan lautan dapat mengganggu hubungan antara hewan dan sumber makanannya.













