Harga Pertamax Turbo kini mencapai Rp 19.400 per liter. Dexlite berada di Rp 23.600 dan Pertamina Dex menyentuh Rp 23.900 per liter.
Di sisi lain, Pertamax masih ditahan di Rp 12.300 per liter di SPBU. Untuk Pertashop, harganya sedikit lebih rendah di Rp 12.200 per liter.
Produk Pertamax Green 95 juga tidak berubah, tetap di Rp 12.900 per liter. Ini memperkuat posisi BBM nonsubsidi di segmen menengah.
Sementara itu, BBM subsidi seperti Pertalite masih di Rp 10.000 per liter. Biosolar subsidi juga stabil di angka Rp 6.800 per liter.
Pengamat energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menilai kebijakan ini efektif menahan potensi migrasi. Menurutnya, Pertamax adalah kunci karena konsumennya paling besar di kelas nonsubsidi.
Jika Pertamax ikut naik, pergeseran ke BBM subsidi dinilai sulit dihindari. Apalagi pengguna utamanya berasal dari kelas menengah yang sensitif terhadap harga.
Peneliti CORE Indonesia, Muhammad Ishak Razak, melihat langkah ini sebagai strategi meredam inflasi. Namun, konsekuensinya adalah tekanan tambahan terhadap APBN.
Pengamat ekonomi Universitas Negeri Manado, Robert Winerungan, mengingatkan pentingnya pembatasan. Ia mendorong aturan tegas agar BBM subsidi tidak digunakan kelompok mampu.
Kebijakan ini menunjukkan pemerintah sedang menjaga keseimbangan. Bukan hanya soal harga, tapi juga mengatur perilaku konsumsi agar tetap terkendali.