JAKARTA, Cobisnis.com – Iran tegaskan tidak akan lagi menahan diri setelah jet tempur AS tembaki dan lumpuhkan dua kapal berbendera Iran di Teluk Oman pada Jumat, 8 Mei 2026. Pernyataan ini tandai eskalasi baru dalam konflik yang sudah berlangsung hampir tiga bulan.
Juru bicara komisi keamanan nasional parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, peringatkan AS secara terbuka lewat media sosial. Ia tegaskan setiap serangan terhadap kapal Iran akan picu respons langsung yang kuat terhadap kapal maupun pangkalan Amerika.
IRGC juga keluarkan ancaman serupa dengan nada lebih keras. Setiap serangan terhadap tanker Iran disebut akan hasilkan serangan besar terhadap pusat kepentingan AS di kawasan.
Di lapangan, serangan drone terjadi di sejumlah wilayah Teluk pada Minggu, 10 Mei 2026. Kapal kargo menuju Qatar terkena drone di timur laut pelabuhan Mesaieed.
UKMTO konfirmasi kapal itu terkena proyektil tak dikenal. Terjadi kebakaran kecil yang berhasil dipadamkan, tidak ada korban jiwa dan tidak ada dampak lingkungan.
Media Iran, Fars, sebut kapal yang terkena serangan itu berlayar dengan bendera AS dan dimiliki warga AS. Informasi ini belum dikonfirmasi resmi oleh pihak Amerika.
UEA laporkan dua drone dari Iran berhasil dicegat pertahanan udaranya. Kuwait juga laporkan upaya serangan drone di wilayah udaranya yang berhasil ditangani sesuai prosedur militer.
Korea Selatan catat insiden tersendiri. Kapal kargo HMM Namu kena serangan dua pesawat tak dikenal di Selat Hormuz pada 4 Mei, picu kebakaran di bagian buritan.
Di tengah eskalasi ini, Washington masih tunggu jawaban Iran atas proposal perpanjangan gencatan senjata. Menlu Iran Abbas Araghchi sebut tindakan militer AS justru pertebal kecurigaan Teheran soal keseriusan diplomasi Washington.
Jalur diplomasi AS-Iran kini berada di titik yang sangat rapuh. Setiap insiden baru di lapangan berpotensi hancurkan peluang perundingan yang sudah sangat terbatas.













