JAKARTA, Cobisnis.com – Enam pilot jet tempur F-16 Angkatan Udara Amerika Serikat menerima penghargaan Distinguished Flying Cross pada Mei 2026. Penghargaan itu diberikan atas aksi mereka dalam Operasi Midnight Hammer, misi serangan ke fasilitas nuklir Iran yang berlangsung pada Juni 2025.
Para pilot dari Skuadron Tempur ke-55 mendapat tugas membuka jalur bagi pesawat pembom siluman B-2 Spirit menuju target. Untuk menjalankan misi tersebut, mereka harus menerobos wilayah udara Iran yang dijaga ketat oleh sistem pertahanan dan rudal.
Tantangan utama datang dari fakta bahwa F-16 bukan pesawat siluman. Meski demikian, mereka tetap terbang jauh ke dalam area berisiko tinggi dengan kemungkinan ditembak jatuh atau ditangkap jika misi mengalami kegagalan.
Di tengah operasi, para pilot juga menghadapi kendala ketika beberapa pesawat tanker pengisi bahan bakar tidak dapat mendukung sesuai rencana. Kondisi itu membuat pengelolaan bahan bakar menjadi faktor yang sangat krusial.
Mantan pilot F-16 John Waters menjelaskan bahwa masalah tanker dapat berdampak langsung pada waktu dan cadangan bahan bakar. Situasi tersebut menuntut setiap pilot mengambil keputusan cepat tanpa banyak ruang untuk kesalahan.
Walau menghadapi keterbatasan bahan bakar, para pilot tetap mempertahankan posisi dan melanjutkan pengawalan hingga misi selesai. Salah satu pilot bahkan tetap mendampingi formasi pesawat sampai mencapai area aman sebelum melakukan pengisian bahan bakar.
Atas keberhasilan tersebut, enam pilot dianugerahi Distinguished Flying Cross, salah satu penghargaan penerbangan militer paling bergengsi di Amerika Serikat. Penghargaan itu menjadi pengakuan atas peran penting mereka dalam salah satu operasi udara paling berani dalam beberapa tahun terakhir.













