JAKARTA, Cobisnis.com – Orang yang suka mencari perhatian atau kerap disebut caper bisa dikenali melalui sejumlah perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari bersikap berlebihan hingga sulit menerima ketika perhatian beralih kepada orang lain.
Meski begitu, kebiasaan mencari perhatian tidak selalu menunjukkan niat buruk. Perilaku ini bisa berkaitan dengan kebutuhan untuk dihargai, mencari dukungan emosional, atau kurang percaya diri.
Salah satu cirinya adalah menunjukkan reaksi berlebihan terhadap situasi tertentu. Contohnya, membesar-besarkan masalah kecil atau bersikap dramatis agar orang lain tertarik memberikan respons.
Orang yang mencari perhatian juga terkadang memancing konflik atau perdebatan. Mereka bisa melontarkan komentar kontroversial yang membuat percakapan santai berubah menjadi perselisihan.
Ciri berikutnya adalah sering mencari pujian dan pengakuan. Perilaku ini bisa terlihat ketika seseorang berulang kali membicarakan pencapaian, kelebihan, atau hal yang dimilikinya demi mendapatkan apresiasi.
Di media sosial, keinginan mendapatkan perhatian dapat muncul melalui unggahan samar yang mengundang rasa penasaran. Namun, unggahan seperti itu juga bisa menjadi cara seseorang mengekspresikan masalah yang belum siap diceritakan secara terbuka.
Orang yang sangat membutuhkan perhatian juga mungkin merasa tidak nyaman ketika orang lain menjadi pusat pembicaraan. Misalnya, menyela cerita teman, mengalihkan topik kepada dirinya sendiri, atau menunjukkan ketidaksenangan saat orang lain mendapat pujian.
Kebiasaan membesar-besarkan cerita atau masalah juga bisa menjadi tanda yang perlu diperhatikan. Meski demikian, cerita yang terdengar dramatis tidak otomatis berarti seseorang berbohong atau sengaja mencari perhatian.
Ciri lainnya adalah mengabaikan batasan pribadi orang lain. Contohnya, terus menghubungi seseorang yang meminta ruang pribadi atau mengganggu teman yang sedang sibuk demi mendapatkan respons.
Untuk mengenali perilaku tersebut, penting melihat konteks, frekuensi, dan dampaknya terhadap hubungan sosial. Satu atau dua perilaku saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang selalu mencari perhatian.
Alih-alih langsung memberi label caper, komunikasi terbuka dan batasan yang sehat dapat membantu menjaga kenyamanan bersama. Jika perilaku seseorang mulai mengganggu, menyampaikan batasan secara jelas menjadi langkah yang dapat dilakukan.













