JAKARTA, Cobisnis.com – Orang yang gemar membicarakan pencapaiannya, selalu menginginkan pujian, dan sulit menerima kritik bisa menunjukkan perilaku narsistik, tetapi kebiasaan tersebut saja tidak cukup untuk menyimpulkan seseorang mengalami gangguan kepribadian narsistik.
Dikutip dari kanal YouTube Pertajam Pola Pikir, Selasa (13/10/2026), narsistik berkaitan dengan rasa penting terhadap diri sendiri yang berlebihan, kebutuhan akan pengakuan, serta kesulitan memahami atau mempertimbangkan perasaan orang lain.
Dalam hubungan sehari-hari, perilaku tersebut dapat terlihat ketika seseorang terus mengalihkan pembicaraan agar kembali berpusat pada dirinya, membandingkan pencapaian, atau berusaha membuat dirinya tampak lebih unggul daripada orang lain.
Orang dengan kecenderungan narsistik juga dapat merasa tersinggung ketika menerima kritik karena menganggapnya sebagai bentuk penghinaan terhadap dirinya.
Dalam beberapa situasi, mereka mungkin berusaha membenarkan kesalahan atau mengalihkan kesalahan kepada orang lain agar citra dirinya tetap terjaga.
Namun, penting membedakan sifat narsistik yang sesekali muncul dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD), yaitu gangguan kepribadian yang memerlukan penilaian profesional berdasarkan pola perilaku dan dampaknya terhadap kehidupan seseorang.
Materi tersebut menjelaskan tiga faktor yang diduga berperan dalam perkembangan kepribadian narsistik, yakni genetik, lingkungan, dan struktur atau fungsi otak.
Pengalaman masa kecil, termasuk pola pengasuhan, kurangnya perhatian dan kasih sayang, atau kritik berlebihan, dapat memengaruhi perkembangan seseorang, meskipun tidak otomatis menyebabkan NPD.
Sementara itu, penelitian mengenai faktor biologis menunjukkan bahwa struktur dan fungsi otak juga mungkin berkaitan dengan perkembangan gangguan kepribadian, tetapi mekanismenya masih terus diteliti.
Jika menghadapi orang yang perilakunya menguras energi emosional, menjaga batasan dalam hubungan dapat membantu melindungi kesejahteraan diri.
Misalnya, seseorang dapat membatasi interaksi yang tidak diperlukan, tetap berfokus pada tanggung jawab pekerjaan, serta menyampaikan batasan secara jelas ketika percakapan mulai merendahkan atau mengabaikan perasaan.
Jika perilaku tersebut terjadi dalam hubungan dekat dan menimbulkan tekanan berkepanjangan, mencari dukungan dari orang tepercaya atau tenaga profesional kesehatan mental dapat menjadi pilihan.
Pada akhirnya, kebiasaan suka selfie, membagikan pencapaian, atau menginginkan pujian tidak serta-merta menandakan seseorang memiliki gangguan kepribadian narsistik karena diagnosis perlu dilakukan oleh tenaga profesional.













