JAKARTA, Cobisnis – Limbah gedebong pisang yang selama ini kerap dibiarkan begitu saja justru menjadi bahan utama bagi Gemala Craft untuk menghasilkan berbagai produk kerajinan bernilai ekonomi. Berawal dari keinginan menekan biaya produksi, usaha yang dirintis sejak 2012 itu kini mengembangkan produk dengan memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan di sekitar.
Pemilik Gemala Craft, Fara, mengatakan perjalanan usahanya dimulai pada 2012 dengan membuat berbagai kerajinan dari bahan yang sudah siap pakai, seperti mutiara, kawat, dan kain flanel. Produk yang dibuat saat itu antara lain bros dan gantungan kunci.
Pada tahap awal, usaha tersebut berjalan dengan mengandalkan pesanan dari konsumen. Berbagai produk kerajinan dibuat sesuai kebutuhan, termasuk untuk keperluan suvenir dan acara tertentu.
Namun, perjalanan usaha Fara tidak selalu berjalan mulus. Pandemi Covid-19 menjadi salah satu periode paling berat bagi bisnis kerajinannya karena aktivitas masyarakat dan berbagai acara yang selama ini menjadi sumber pesanan ikut berhenti.
Usaha Sempat Berhenti Saat Pandemi
Pandemi membuat pesanan kerajinan Fara terhenti. Tidak adanya acara pernikahan maupun pesanan suvenir membuat produksi kerajinan yang selama ini dijalankannya ikut terdampak.
Kondisi tersebut membuat Fara harus mencari cara lain agar tetap dapat menjalankan usaha. Ia kemudian beralih sementara dengan berjualan makanan ringan seperti popcorn.
Peralihan tersebut menjadi salah satu cara Fara untuk tetap mendapatkan penghasilan ketika bisnis kerajinan belum dapat berjalan seperti sebelumnya. Meski demikian, ia tidak sepenuhnya meninggalkan dunia kerajinan yang sudah dibangunnya sejak 2012.
Setahun setelah pandemi mulai mereda, pesanan kerajinan perlahan mulai kembali datang. Pada saat yang sama, Fara mulai memikirkan bagaimana mengembangkan usaha dengan model produksi yang lebih efisien.
Ia ingin mencari bahan yang tidak membutuhkan biaya besar, tetapi tetap dapat menghasilkan produk yang memiliki nilai jual.
“Saya kepengin buat usaha kerajinan itu yang minim budget, tapi hasil karyanya itu bisa dikenal masyarakat luar,” kata Fara dalam wawancara, Sabtu (29/08/2026).
Keinginan tersebut kemudian mendorong Fara mencari berbagai referensi. Salah satu sumber yang digunakannya adalah YouTube.
Dari berbagai referensi yang ditemukan, Fara mendapatkan ide untuk mengolah limbah gedebong pisang menjadi bahan kerajinan. Ide tersebut kemudian dicoba secara langsung.
Melihat Potensi Gedebong Pisang
Di kampung tempat tinggalnya, batang pisang yang buahnya sudah dipanen sering kali dibiarkan begitu saja. Material yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan tersebut belum banyak digunakan untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi.
Fara melihat kondisi tersebut sebagai peluang. Daripada hanya menjadi limbah, gedebong pisang dapat diolah menjadi bagian dari produk kerajinan.
Ia kemudian mulai melakukan percobaan untuk mengetahui bagaimana karakter gedebong pisang ketika diolah menjadi produk. Setelah melalui proses tersebut, produk pertama yang dibuat adalah kotak tisu.
Fara mengambil gedebong pisang yang sudah kering, kemudian mengolahnya menjadi produk kerajinan. Setelah produk selesai dibuat, ia mencoba memasarkannya melalui media sosial.
Respons dari konsumen ternyata cukup baik. Produk berbahan gedebong pisang yang awalnya dibuat sebagai percobaan justru membuka peluang baru bagi Gemala Craft untuk mengembangkan lebih banyak jenis produk.
“Dari situlah saya mulai menggali lagi produk apa lagi yang bagus kita buat dari limbah gedebong pisang ini,” ujarnya.
Dari satu produk tersebut, Fara kemudian mulai melihat bahwa gedebong pisang tidak hanya dapat digunakan untuk membuat kotak tisu. Karakter materialnya memungkinkan untuk dikembangkan menjadi berbagai bentuk kerajinan.
Pengembangan produk juga menjadi bagian penting agar Gemala Craft tidak hanya bergantung pada satu jenis barang. Dengan semakin banyak pilihan produk, peluang untuk menjangkau kebutuhan konsumen yang berbeda juga semakin terbuka.
Mengandalkan Bahan yang Mudah Didapat
Salah satu alasan Fara mempertahankan penggunaan gedebong pisang adalah ketersediaan bahan. Material tersebut relatif mudah ditemukan di lingkungan sekitar, terutama di wilayah tempat tinggalnya.
Kondisi tersebut berbeda dengan bahan kerajinan yang sebelumnya digunakan. Ketika menggunakan bahan seperti mutiara, kawat, atau kain flanel, Fara perlu membeli material terlebih dahulu sebelum memulai proses produksi.
Sementara itu, penggunaan gedebong pisang membuat kebutuhan bahan utama dapat diperoleh dari lingkungan sekitar. Biaya produksi kemudian lebih banyak diarahkan pada material pendukung dan proses pengerjaan.
“Kalau pengolahan limbah gedebong pisang, saya butuhkan cuma tripleks sama lem, sama cutter. Itu pun cutter pemakaiannya sudah panjang,” tutur Fara.
Efisiensi bahan tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan Gemala Craft. Fara tidak hanya ingin membuat produk yang memiliki nilai estetika, tetapi juga menjaga agar proses produksinya tetap dapat dilakukan dengan biaya yang terjangkau.
Menurutnya, gedebong pisang memiliki karakter alami yang dapat memberikan tampilan berbeda pada produk. Tekstur dan bentuk material tersebut menjadi salah satu unsur yang kemudian dimanfaatkan untuk menciptakan produk kerajinan.
Produk yang dihasilkan juga diarahkan untuk kebutuhan rumah maupun ruang kerja. Dengan demikian, limbah yang sebelumnya tidak memiliki nilai jual dapat diubah menjadi barang yang memiliki fungsi.
Membawa Identitas Lokal Sumbawa
Gemala Craft tidak hanya memanfaatkan gedebong pisang sebagai bahan utama. Fara juga memasukkan unsur lokal dalam desain produk yang dibuat.
Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan motif yang terinspirasi dari seni ukir khas Sumbawa. Beberapa motif yang digunakan antara lain Lonto Engal dan Kemangsa Tangi.
Penggunaan motif tersebut menjadi bagian dari upaya Fara untuk memberikan identitas pada produk. Kerajinan yang dibuat tidak hanya mengandalkan material dari lingkungan sekitar, tetapi juga membawa unsur budaya daerah asalnya.
Bagi Fara, produk kerajinan dapat menjadi salah satu media untuk memperkenalkan potensi daerah. Ketika sebuah produk memiliki ciri khas, konsumen tidak hanya melihat barang dari sisi fungsi dan harga, tetapi juga dapat mengenali cerita yang ada di balik produk tersebut.
Pendekatan tersebut menjadi pembeda Gemala Craft di tengah persaingan produk kerajinan yang semakin luas. Material gedebong pisang yang dipadukan dengan motif khas Sumbawa memberikan karakter tersendiri pada produk yang dihasilkan.
Memberdayakan Ibu Rumah Tangga
Perkembangan Gemala Craft juga mulai memberikan dampak kepada masyarakat sekitar. Ketika mendapatkan pesanan dalam jumlah lebih banyak, Fara tidak mengerjakan seluruh proses produksi seorang diri.
Ia memberdayakan ibu-ibu rumah tangga yang berada di lingkungan sekitar untuk membantu mengerjakan pesanan. Kesempatan tersebut tidak hanya memberikan tambahan tenaga produksi bagi Gemala Craft, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan penghasilan.
“Biasanya kalau ada orderan lebih, jadi bisa kita memberdayakan ibu-ibu yang ada di sekitar,” kata Fara.
Bagi usaha kerajinan, tambahan tenaga menjadi penting ketika jumlah pesanan meningkat. Setiap produk membutuhkan proses pengerjaan yang dilakukan secara bertahap sehingga kapasitas produksi sangat bergantung pada jumlah orang yang terlibat.
Namun, Fara tidak hanya membagi pekerjaan kepada ibu-ibu di sekitar. Ia juga berbagi ilmu mengenai proses pembuatan produk agar hasil yang dikerjakan tetap sesuai dengan standar Gemala Craft.
Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri karena produk kerajinan dibuat secara manual. Perbedaan cara mengerjakan dapat memengaruhi bentuk maupun hasil akhir sebuah produk.
Menghadapi Persaingan Marketplace
Di tengah perkembangan usaha, Gemala Craft juga menghadapi tantangan dalam pemasaran. Salah satunya adalah persaingan di marketplace, terutama dalam hal harga.
Platform digital membuat produk kerajinan dari berbagai daerah dapat bertemu dalam satu pasar. Konsumen dapat membandingkan produk berdasarkan harga, desain, bahan, maupun kualitas.
Kondisi tersebut membuat produk lokal harus memiliki keunikan agar tidak hanya bersaing melalui harga. Bagi Gemala Craft, penggunaan limbah gedebong pisang dan penggabungan motif khas Sumbawa menjadi salah satu nilai yang dapat ditawarkan.
Fara menyadari bahwa persaingan tersebut tidak mudah. Produk yang dibuat secara manual membutuhkan waktu dan keterampilan, sehingga tidak selalu dapat mengikuti harga produk lain yang menggunakan proses berbeda.
Karena itu, pengembangan usaha tidak hanya berkaitan dengan meningkatkan jumlah produksi. Penguatan identitas produk dan kemampuan mengelola bisnis juga menjadi bagian yang diperlukan agar Gemala Craft dapat berkembang secara berkelanjutan.
Dukungan Amman Bantu Pengembangan Usaha
Dalam proses pengembangan usaha, Gemala Craft juga mendapatkan dukungan dari Amman melalui program Balai Berdaya.
Fara mengatakan program tersebut memberikan kesempatan baginya untuk mendapatkan pengetahuan baru mengenai dasar-dasar pengelolaan bisnis. Pengetahuan tersebut menurutnya penting karena sebelumnya fokus usaha lebih banyak berada pada proses pembuatan produk.
Melalui program tersebut, Fara mengikuti pelatihan yang membahas sejumlah hal, termasuk bisnis model kanvas dan perhitungan harga pokok produksi atau HPP.
“Dari situ saya banyak sekali mendapat ilmu. Kita diajarkan mengenai bisnis model kanvas, kemudian perhitungan HPP. Pokoknya segala macamnya itu ibaratnya kalau saya bilang, itu dasarnya kita membangun sebuah fondasi,” ujar Fara.
Pengetahuan mengenai HPP menjadi salah satu hal penting bagi usaha kerajinan. Dengan mengetahui biaya yang dikeluarkan untuk membuat sebuah produk, pelaku usaha dapat memiliki dasar dalam menentukan harga jual.
Sementara bisnis model kanvas membantu Fara melihat usaha secara lebih menyeluruh, tidak hanya dari sisi produk, tetapi juga bagaimana usaha tersebut dapat dijalankan dan dikembangkan.
Selain pelatihan, Fara juga mendapatkan bantuan berupa mesin scroll. Peralatan tersebut digunakan untuk membantu proses produksi, terutama ketika membuat ukiran yang kemudian diaplikasikan pada media yang telah dibuat menggunakan gedebong pisang.
Sebelumnya, proses pengerjaan ukiran membutuhkan waktu dan tenaga lebih banyak. Dengan adanya mesin tersebut, proses pengerjaan dapat dilakukan lebih cepat.
“Dari segi waktu cepat, kemudian hasilnya juga bagus. Dampak yang saya rasakan lebih ke omzet, omzetnya lebih bertambah, kemudian orderan juga bertambah,” katanya.
Bantuan tersebut tidak hanya berdampak pada proses produksi. Fara juga merasakan perubahan dari sisi pesanan dan omzet setelah kapasitas produksinya semakin terbantu.
Ingin Menembus Pasar Ekspor
Ke depan, Fara memiliki target untuk membawa Gemala Craft menembus pasar ekspor. Target tersebut menjadi salah satu langkah lanjutan setelah usaha mulai berkembang dengan memanfaatkan gedebong pisang.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Fara ingin lebih fokus membenahi manajemen produksi dan pengelolaan usaha. Pasar yang lebih luas membutuhkan kemampuan produksi yang lebih konsisten agar jumlah dan kualitas barang dapat dipenuhi.
Salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah kebutuhan tenaga kerja. Menurut Fara, produksi kerajinan membutuhkan keterampilan yang konsisten karena setiap produk harus memiliki kualitas dan hasil yang seragam.
“Kalau kerajinan kan harus sama. Hasil tangan yang kita buat dengan saya atau dengan orang lain itu harus balance,” ujarnya.
Konsistensi tersebut menjadi pekerjaan rumah tersendiri ketika jumlah produksi meningkat. Semakin banyak orang yang terlibat dalam proses pengerjaan, semakin penting adanya standar kerja yang sama.
Fara melihat kebutuhan tenaga kerja terampil sebagai bagian dari pengembangan Gemala Craft ke depan. Jika target pasar semakin luas, kapasitas produksi juga perlu ditingkatkan tanpa menghilangkan karakter dan kualitas produk.
Dari Limbah Menjadi Peluang
Perjalanan Gemala Craft menunjukkan bagaimana bahan yang sebelumnya dianggap tidak terpakai dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi. Gedebong pisang yang kerap dibiarkan setelah buahnya dipanen kini menjadi bagian dari produk kerajinan yang dipasarkan kepada konsumen.
Bagi Fara, pemanfaatan material tersebut juga membuka peluang untuk membuat usaha dengan biaya produksi yang lebih efisien. Di sisi lain, penggunaan motif khas Sumbawa membuat produk memiliki identitas lokal yang ingin terus dikembangkan.
Dukungan melalui pelatihan dan peralatan juga membantu Fara membangun fondasi usaha dari sisi produksi maupun pengelolaan bisnis. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses Gemala Craft untuk berkembang dari usaha yang sempat terdampak pandemi menjadi bisnis kerajinan yang memiliki target pasar lebih luas.
Fara berharap produk berbahan limbah gedebong pisang dapat semakin dikenal dan membawa nama Sumbawa ke pasar yang lebih luas. Target ekspor yang ingin dicapai menjadi salah satu tujuan jangka panjang usaha tersebut.
Dari bahan yang sebelumnya hanya dibiarkan di lingkungan sekitar, Gemala Craft mencoba menciptakan nilai baru melalui kreativitas, keterampilan, dan pengembangan desain. Perjalanan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa peluang usaha dapat muncul dari material sederhana yang tersedia di sekitar, selama ada kemauan untuk mengolah dan mengembangkannya.












