JAKARTA, Cobisnis.com – CEO Instagram Adam Mosseri mengungkap penggunaan fitur perlindungan remaja Take a Break dalam persidangan yang melibatkan Meta. Menurutnya, fitur tersebut jarang diaktifkan sendiri oleh pengguna remaja.
Mosseri memberikan kesaksian dalam perkara yang menuduh Meta merancang Instagram dan Facebook untuk membuat anak anak kecanduan. Ia membantah tudingan bahwa Instagram sengaja menunda penerapan Take a Break sebagai pengaturan bawaan.
Fitur Take a Break dirancang untuk mengingatkan pengguna remaja agar berhenti menggunakan Instagram setelah melewati waktu tertentu. Fitur tersebut pertama kali diluncurkan pada 2021 untuk uji coba awal.
Menurut Mosseri, lebih dari 90 persen remaja yang mengaktifkan fitur tersebut dalam uji coba tetap mempertahankannya. Namun, jumlah remaja yang secara sukarela mengaktifkan fitur itu setelahnya disebut sangat sedikit.
Mosseri mengatakan kondisi tersebut menunjukkan sebagian besar remaja tidak menginginkan fitur pembatasan penggunaan tersebut. Meski demikian, Instagram tetap melanjutkan keberadaan fitur Take a Break.
Kesaksian lain datang dari Direktur Desain Produk Instagram Francesco Fogu. Ia menyatakan perusahaan telah mengetahui bahwa jumlah pengguna yang mengaktifkan fitur tersebut akan lebih sedikit apabila Take a Break tidak dijadikan pengaturan bawaan.
Fogu juga mengungkap timnya pernah mempresentasikan materi mengenai keselamatan remaja kepada pimpinan Instagram pada 2023. Salah satu materi menunjukkan remaja terpapar sejumlah konten berisiko lebih sering dibandingkan pengguna dewasa.
Materi tersebut mencakup konten terkait perundungan, bunuh diri, kebencian, seksual, dan kekerasan. Dalam persidangan, disebutkan bahwa salah satu slide yang memuat temuan tersebut kemudian diduga dihapus.
Mosseri menjadi saksi penting dalam gugatan yang diajukan 29 negara bagian di Amerika Serikat. Gugatan tersebut menuduh Meta mengumpulkan data anak di bawah usia 13 tahun secara ilegal dan menghadapkan perusahaan pada potensi hukuman hingga US$200 miliar.
Perkara ini menjadi sorotan karena menyangkut tanggung jawab perusahaan media sosial terhadap pengguna anak dan remaja. Persidangan juga menjadi bagian dari perdebatan lebih luas mengenai dampak penggunaan media sosial terhadap kelompok usia muda.












