JAKARTA, Cobisnis.com – Diabetes kini tidak lagi identik dengan usia lanjut karena semakin banyak kasus yang ditemukan pada remaja hingga dewasa muda. Para ahli menilai perubahan gaya hidup menjadi salah satu faktor utama yang membuat Gen Z alami diabetes di usia produktif.
Salah satu penyebab terbesar adalah pola makan yang tinggi gula, lemak, dan kalori. Konsumsi minuman manis, kopi susu kekinian, makanan cepat saji, serta camilan olahan secara berlebihan dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes tipe 2.
Kurangnya aktivitas fisik juga menjadi faktor yang tidak kalah penting. Kebiasaan duduk terlalu lama, bekerja atau belajar di depan layar, serta minim berolahraga membuat tubuh kurang efektif menggunakan insulin untuk mengontrol kadar gula darah.
Selain itu, stres dan kurang tidur turut berkontribusi terhadap meningkatnya risiko diabetes. Keduanya dapat mengganggu keseimbangan hormon, meningkatkan kadar gula darah, dan memicu resistensi insulin apabila berlangsung dalam jangka panjang.
Berat badan berlebih juga menjadi salah satu faktor risiko utama. Penumpukan lemak di dalam tubuh dapat membuat sel menjadi kurang sensitif terhadap insulin sehingga kadar gula darah lebih sulit dikendalikan.
Gejala diabetes pada usia muda kerap tidak disadari karena berkembang secara perlahan. Tanda yang perlu diwaspadai antara lain sering haus, sering buang air kecil, mudah lelah, berat badan turun tanpa sebab yang jelas, serta luka yang sulit sembuh.
Risiko diabetes dapat ditekan dengan menerapkan gaya hidup sehat sejak dini. Mengurangi konsumsi makanan tinggi gula, rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, tidur cukup, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi langkah penting untuk pencegahan.
Meski faktor keturunan juga berpengaruh, sebagian besar kasus diabetes tipe 2 dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup. Dengan meningkatkan kesadaran sejak usia muda, Gen Z dapat menjaga kadar gula darah tetap normal sekaligus menurunkan risiko komplikasi di kemudian hari.













