JAKARTA, Cobisnis.com – Dalam pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan, tidak jarang seseorang tanpa sadar makan atau minum karena lupa, padahal sejak malam sudah berniat berpuasa. Kondisi ini kerap menimbulkan pertanyaan di kalangan umat Islam: apakah puasa menjadi batal atau tetap bisa dilanjutkan?
Islam dikenal sebagai agama yang penuh kemudahan dan kasih sayang. Allah SWT tidak membebani hamba-Nya di luar kemampuan, termasuk dalam ibadah puasa. Salah satu bentuk keringanan tersebut adalah toleransi bagi orang yang lupa makan atau minum saat berpuasa.
Mayoritas ulama sepakat bahwa makan dan minum yang dilakukan karena benar-benar lupa tidak membatalkan puasa. Orang yang mengalaminya tidak diwajibkan mengganti puasa (qadha) dan tidak dikenakan kafarat. Bahkan, makanan dan minuman yang masuk dalam kondisi lupa disebut sebagai rezeki yang Allah berikan.
Hal ini merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Abu Hurairah:
“Barang siapa lupa ketika sedang berpuasa lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah yang telah memberinya makan dan minum.” (Muttafaqun ‘alaih)
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa orang yang berbuka karena lupa di bulan Ramadhan tidak memiliki kewajiban qadha maupun kafarat.
Meski demikian, dalam kajian fikih terdapat perbedaan pandangan di antara empat mazhab terkait detail penerapannya. Mazhab Syafi’i dan Hanafi berpendapat bahwa lupa makan, minum, atau bahkan berhubungan suami istri saat puasa tidak membatalkan puasa dan tidak menimbulkan kewajiban apa pun.
Mazhab Hanbali memiliki pandangan berbeda. Menurut Imam Ahmad bin Hanbal, jika seseorang lupa makan atau minum, puasanya tetap sah tanpa qadha dan kafarat. Namun, apabila lupa melakukan hubungan suami istri di siang hari Ramadhan, maka ia tetap wajib mengganti puasa dan membayar kafarat.
Sementara itu, Imam Malik berpandangan lebih ketat. Menurut mazhab Maliki, lupa makan, minum, atau melakukan hal lain yang membatalkan puasa tetap membuat puasa tidak sah, sehingga wajib diqadha meskipun tidak dikenai kafarat. Pendapat ini dianalogikan dengan shalat, di mana kekurangan rukun meski karena lupa dapat merusak keabsahan ibadah.
Secara umum, mayoritas ulama membolehkan melanjutkan puasa bagi orang yang lupa makan atau minum, tanpa kewajiban qadha maupun kafarat, selama lupa tersebut benar-benar terjadi dan bukan disengaja. Hal ini menunjukkan kelapangan ajaran Islam yang tidak memberatkan umatnya.
Wallahu a’lam bish-shawab.














