JAKARTA, Cobisnis.com – Ferry Irwandi membahas tantangan yang dihadapi pelaku usaha dalam mengembangkan bisnisnya. Menurutnya, banyak pemilik usaha mampu mendapatkan pelanggan pada tahap awal, tetapi kesulitan ketika harus membawa bisnis ke level berikutnya.
Ferry mengutip riset yang disebutnya berasal dari Semeru pada 2022, yang menunjukkan 73% anak muda Indonesia memiliki cita cita menjadi pengusaha. Namun, tingginya minat tersebut berhadapan dengan tantangan dalam mengembangkan dan mempertahankan bisnis.
Ia juga menyebut 50% UMKM gagal pada tahun pertama dan 95% gagal dalam lima tahun pertama. Dari berbagai kegagalan tersebut, Ferry menyebut 88,7% disebabkan oleh kesalahan manajemen.
“Jago bikin produk doang itu enggak akan pernah cukup,” ujar Ferry. Menurutnya, dikutip dari kanal Youtube Ferry Irwandi, Kamis (20/8/2026).
Ferry kemudian mengacu pada konsep Michael Gerber dalam buku The E Myth. Dalam konsep tersebut, pemilik usaha memiliki tiga peran utama, yaitu technician yang mengerjakan aspek teknis, manager yang mengatur sistem dan operasional, serta entrepreneur yang menentukan arah bisnis.
Menurut Ferry, banyak pemilik usaha terlalu terjebak sebagai technician. Ia mencontohkan orang yang sangat ahli membuat makanan bisa saja membuka bisnis kuliner, tetapi mengembangkan bisnis menjadi beberapa cabang membutuhkan kemampuan lain seperti mengelola karyawan, bahan baku, pajak, pemasaran, dan arah perusahaan.
Gerber menyebut kondisi tersebut sebagai fatal assumption, yaitu anggapan bahwa kemampuan menguasai pekerjaan otomatis membuat seseorang mampu menjalankan bisnis. Padahal, menurut Ferry, keduanya membutuhkan keahlian yang berbeda.
Karena itu, pemilik usaha perlu membangun sistem melalui SOP, alur kerja, checklist, dan dokumentasi. Sistem tersebut membuat bisnis tidak selalu bergantung pada pemilik untuk menjalankan aktivitas operasional sehari hari.
Ferry juga menyoroti penggunaan teknologi untuk membantu pengelolaan bisnis. Ia membahas Odoo sebagai platform yang menyediakan berbagai aplikasi bisnis terintegrasi, mulai dari invoicing, inventory, CRM, HR hingga e commerce.
Menurut Ferry, sistem yang terintegrasi dapat membantu pemilik usaha memperoleh data yang lebih rapi dan mengurangi pekerjaan administratif. Dengan begitu, pemilik dapat lebih fokus memikirkan arah dan pengembangan bisnis.
Ferry turut membagikan pengalamannya membangun Malaka Project. Ia mengatakan kemampuan teknis di bidang videografi dan editing tidak cukup untuk mengembangkan perusahaan media, sehingga ia membutuhkan sistem, tim, serta visi bisnis.
“Lu butuh sistem, lu butuh orang, lu butuh visi,” kata Ferry. Ia menilai ketiga peran sebagai technician, manager, dan entrepreneur perlu berjalan beriringan agar bisnis dapat berkembang.
Ferry menutup pembahasannya dengan mengingatkan pemilik usaha untuk mulai mengevaluasi ketergantungan bisnis terhadap dirinya sendiri. Jika bisnis tidak dapat berjalan ketika pemilik cuti atau sakit, menurutnya, kondisi tersebut menjadi tanda bahwa sistem bisnis perlu diperkuat.













