JAKARTA, Cobisnis.com – Ferry Irwandi membagikan sejumlah materi yang diperolehnya setelah mengikuti kursus di Harvard Business School. Salah satu materi yang disorot adalah data driven marketing, mulai dari konsep dasar hingga penerapannya dalam bisnis.
Menurut Ferry, digital marketing seharusnya dipahami sebagai disiplin manajerial yang membantu perusahaan mendapatkan, mengonversi, dan mempertahankan pelanggan melalui keputusan berbasis data.
“Elemen paling penting dalam digital marketing ternyata bukan konten, bukan editan, bukan influencer, tapi balik lagi data,” ujar Ferry dalam kontennya, dikutip dari kanal Youtube Ferry Irwandi, Rabu (19/8/2026).
Ferry menjelaskan, strategi pemasaran perlu dimulai dari tujuan yang jelas, target audience, value proposition, hingga alat ukur yang relevan. Setelah itu, perusahaan baru menentukan channel, anggaran, serta strategi kampanye yang sesuai.
Ia juga menilai pelaku usaha, khususnya UMKM, tidak bisa hanya mengandalkan peningkatan anggaran iklan untuk mendongkrak penjualan. Produk dan strategi bisnis harus terlebih dahulu mampu menjawab kebutuhan pasar.
“Orang beli bukan cuma karena dia lihat iklan kita, orang beli karena dia merasa kita bisa solve the problem,” kata Ferry.
Menurut Ferry, kesalahan lain yang sering terjadi adalah bisnis terlalu mengejar volume konten dan tren. Kondisi tersebut dapat membuat identitas brand menjadi tidak jelas karena perhatian lebih banyak diarahkan pada gimmick dibandingkan nilai yang ditawarkan.
Ferry kemudian menekankan pentingnya penggunaan data untuk mengetahui channel yang memberikan pelanggan berkualitas, biaya akuisisi yang efisien, hingga tingkat keuntungan dari setiap pelanggan.
Ia mencontohkan metrik Cost per Acquisition atau CPA untuk mengukur biaya yang dikeluarkan bisnis dalam mendapatkan satu pelanggan. Menurutnya, metrik tersebut perlu dibandingkan dengan margin keuntungan agar strategi pemasaran tidak justru membuat perusahaan merugi.
Selain data driven marketing, Ferry menyoroti pentingnya sistem yang mampu menghubungkan data dari berbagai fungsi bisnis. Ia menyebut sistem seperti ERP dapat membantu perusahaan menyatukan informasi marketing, sales, inventory, hingga keuangan.
“Lu enggak bisa ngandelin feeling terus,” ujar Ferry. Menurutnya, kreativitas dan ide tetap penting, tetapi bisnis membutuhkan sistem yang mampu membaca kondisi pasar, mengukur hasil, dan mengubahnya menjadi keputusan.
Ferry menilai kemampuan tersebut semakin penting karena tren, platform, algoritma, dan perilaku konsumen berubah dengan cepat. Karena itu, bisnis perlu membangun strategi, sistem pengukuran, serta proses belajar yang membuat mereka mampu beradaptasi lebih cepat.













