BANDUNG,Cobisnis.com-Suara mesin jahit bersahutan. Tangan para pekerja bergerak cepat merangkai potongan kain menjadi tas, sebelum diperiksa dan dikemas untuk dikirim ke berbagai daerah hingga mancanegara.
Di ruang produksi inilah Artch, merek tas asal Bandung, kini mampu menghasilkan sekitar 7.000 produk per minggu. Sekitar 100 tenaga kerja terlibat melalui sistem vendor, dengan proses quality control dan pengemasan turut melibatkan warga sekitar Komplek Bumi Asri, Bandung Kulon, Jawa Barat.

Namun, Artch berawal dari keresahan sederhana. Pada akhir 2015, Fahri Muhamad Ridwan bersama delapan teman Karang Taruna resah karena belum mendapat pekerjaan setelah lulus kuliah.
“Ada fase jenuh yang melanda kami. Di situ timbul keresahan, masa mau kayak gini terus? Nongkrong-nongkrong enggak jelas sampai larut malam,” kenang Fahri.

Berbekal modal pribadi Rp500.000, Fahri kemudian membuat tas serut untuk kebutuhan futsal, memanfaatkan sisa label “Art” dari usaha kaus dan sweater yang pernah dirintis pada 2011. Pesanan mulai berdatangan hingga delapan teman tongkrongan ikut bergabung dan mengumpulkan modal sekitar Rp20 juta secara patungan.
Saat pandemi Covid-19 membuat permintaan tas anjlok, Artch beralih memproduksi masker kain. “Alhamdulillah, atas kuasa Allah dikasih rezeki dari jualan masker itu,” kata Fahri. Hingga kini, Artch berkembang tanpa pernah menggunakan pinjaman bank.

Melalui marketplace dan Program Ekspor Shopee, Artch kini memasarkan produknya ke Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Shopee menyumbang sekitar 75 persen dari total penjualan, sementara ekspor pada kondisi tertentu dapat mencapai sekitar 40 persen.
“Untuk ekspor, penjualan tertinggi kita pertama dari Singapura, kedua Malaysia, lalu ada Filipina dan Thailand,” ujar Muhammad Fauzi, Head Marketing sekaligus Direktur HRD Artch.

Dari tongkrongan anak muda di sebuah kompleks, Artch tumbuh menjadi usaha yang membawa tas buatan Bandung menembus pasar Asia Tenggara. Tantangan mereka kini bukan sekadar berkembang, tetapi bagaimana terus bertahan di tengah ketatnya persaingan industri fesyen.
“Karena yang paling susah itu bertahan,” pungkas Fauzi.














