JAKARTA, Cobisnis.com – Ferry Irwandi menguji pernyataan Menteri Keuangan Purbaya terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61%. Ia membedah angka tersebut menggunakan pendekatan akuntansi dan ekonometrika untuk melihat seberapa besar peran belanja pemerintah.
Ferry mengatakan pembahasannya mengenai ekonomi ditujukan untuk memberikan edukasi kepada publik dengan menempatkan objektivitas sebagai dasar. Ia menegaskan kontennya bukan bagian dari upaya menyerang atau menjadi oposisi terhadap pemerintah.
Menurut Ferry, pertumbuhan ekonomi 5,61% sebelumnya banyak mendapat sorotan karena dianggap sebagai capaian yang tinggi. Namun, ia menilai komponen pembentuk pertumbuhan perlu dilihat lebih dalam, terutama kenaikan belanja pemerintah.
Ferry menyoroti government spending yang disebut tumbuh 21,81%. Menurut dia, angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan belanja pemerintah dalam sekitar 10 tahun terakhir yang berada pada kisaran 3% hingga 6%.
Dalam pembahasannya, Ferry merespons pernyataan Purbaya yang menyebut pertumbuhan 5,61% tidak didorong oleh belanja pemerintah. Menurut Ferry, klaim tersebut perlu diuji menggunakan data, bukan sekadar argumentasi.
Ia menggunakan rumus Produk Domestik Bruto, yaitu konsumsi, investasi, belanja pemerintah, serta ekspor dikurangi impor. Dari komponen tersebut, Ferry menyebut konsumsi memiliki porsi 54,36%, investasi 28,29%, belanja pemerintah 6,72%, serta ekspor dikurangi impor sebesar 0,93%.
Menurut perhitungannya, kontribusi belanja pemerintah terhadap pertumbuhan 5,61% mencapai 1,26 poin persentase. Angka tersebut berasal dari pertumbuhan government spending sebesar 21,81% dengan porsi 6,72% dalam PDB.
Ferry kemudian membuat skenario kontrafaktual dengan menggunakan pertumbuhan government spending sebesar 4,8%, yang disebutnya sebagai angka optimistis berdasarkan rata-rata pertumbuhan dalam 10 tahun terakhir. Dengan skenario tersebut, ia menghitung pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di sekitar 4,63%.
“Kalau kita bicara ekonomi, kita enggak perlu terlalu banyak bicara, biarkan angka yang bekerja,” ujar Ferry, dikutip dari kanal Youtube Ferry Irwandi, Minggu (30/8/2026).
Ferry juga menggunakan pendekatan ekonometrika dengan beberapa asumsi multiplier effect. Dalam hitungannya, pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 4,43%, 4,33%, hingga 4,23%, tergantung besaran multiplier yang digunakan.
Ia menilai perbedaan tersebut menunjukkan pentingnya melihat hubungan antara belanja pemerintah dan pertumbuhan ekonomi secara lebih menyeluruh. Ferry juga menyoroti risiko fiskal apabila belanja meningkat lebih cepat dibandingkan penerimaan negara.
Dalam pembahasannya, Ferry menyebut penerimaan negara tumbuh sekitar 10%, sementara belanja negara tumbuh 31,8% pada periode yang ia bahas. Menurutnya, kondisi tersebut perlu diperhatikan karena dapat berdampak pada ketahanan fiskal, neraca pembayaran, nilai tukar, hingga kepercayaan investor.
Ferry menegaskan kritik tersebut bukan dimaksudkan untuk memojokkan pemerintah. Ia mengatakan masukan tersebut disampaikan sebagai warga sipil yang memiliki latar belakang pendidikan ekonomi dan ingin melihat kebijakan publik dibahas berdasarkan data.
“Ketika kita mendiagnosis masalah, kita harus mengidentifikasinya dengan benar supaya dapat solusinya yang benar juga,” kata Ferry.
Ia juga meminta agar perdebatan mengenai kondisi ekonomi diselesaikan dengan pendekatan keilmuan dan data. Menurut Ferry, pemerintah masih memiliki banyak capaian dan peluang yang dapat disampaikan tanpa perlu melakukan penggambaran yang berlebihan terhadap kondisi ekonomi.













