JAKARTA, Cobisnis.com – Kesulitan berkonsentrasi tidak selalu berarti seseorang mengalami Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau ADHD. Gangguan konsentrasi juga dapat muncul pada kondisi lain seperti kecemasan, depresi, dan OCD.
Dalam video di kanal YouTube EvanCarmichael, psikiater dr. Darmawan menjelaskan bahwa memahami gangguan konsentrasi perlu melihat fungsi otak, bukan sekadar mencocokkan gejala. “Jadi jangan langsung melakukan diagnosis sendiri, mencocokkan gejala gejalanya,” ujar dr. Darmawan dalam penjelasannya, dikutip dari kanal Youtube MALAKA, Rabu (26/8/2026).
Menurutnya, psikiatri melihat manusia secara menyeluruh, mulai dari aspek biologis, psikologis, sosial budaya, hingga spiritualitas. Sebagai dokter, psikiater juga berfokus pada fungsi otak dan berbagai faktor biologis yang memengaruhi kondisi mental seseorang.
dr. Darmawan menjelaskan, ADHD berkaitan dengan fungsi otak, termasuk bagian lobus frontalis yang berperan dalam fungsi eksekutif. Fungsi tersebut berkaitan dengan kemampuan membuat perencanaan, mengerjakan sesuatu secara bertahap, serta mengendalikan respons impulsif.
Namun, kesulitan fokus dapat memiliki penyebab yang berbeda. Seseorang dengan kecemasan, misalnya, dapat berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain karena terus memikirkan berbagai hal yang belum selesai.
Pola tersebut membuat pekerjaan sulit dituntaskan meski masalah utamanya bukan ADHD. Karena itu, menurut dr. Darmawan, gejala yang terlihat serupa tetap perlu dilihat dari kondisi yang mendasarinya.
Ia juga menjelaskan bahwa ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf sehingga gejalanya seharusnya sudah muncul sejak masa kanak kanak. Jika seseorang baru mengalami gangguan konsentrasi ketika dewasa, kondisi tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya.
Dalam penjelasannya, dr. Darmawan turut membahas pemeriksaan aktivitas listrik otak menggunakan electroencephalography atau EEG. Data tersebut dapat digunakan untuk melihat pola gelombang otak dan membantu memahami kondisi pasien dalam konteks pemeriksaan yang dilakukan.
Ia menambahkan, penanganan gangguan konsentrasi tidak selalu sama pada setiap orang. Selain pengobatan, terdapat pendekatan seperti neurofeedback dan neurostimulasi yang dalam konteks tertentu dapat digunakan sebagai bagian dari intervensi.
Karena itu, dr. Darmawan mengingatkan masyarakat agar tidak terburu buru menyimpulkan dirinya mengalami ADHD hanya karena merasa sulit fokus, mudah terdistraksi, atau sering menunda pekerjaan. Diagnosis dan intervensi perlu disesuaikan dengan kondisi masing masing setelah melalui penilaian yang tepat.













