JAKARTA, Cobisnis.com – Menteri Pariwisata Widiyanti Putri menggelar pertemuan dengan Pemerintah Daerah Manggarai Barat serta pelaku industri dan asosiasi pariwisata di Labuan Bajo untuk membahas langkah pemulihan pariwisata Flores pascagempa bumi sekaligus berbagai isu strategis pengembangan pariwisata Labuan Bajo.
Menpar Widiyanti menyampaikan duka dan empati mendalam kepada masyarakat yang terdampak bencana, terutama keluarga korban meninggal dunia dan korban luka, serta masyarakat yang kehilangan tempat tinggal maupun mata pencaharian.
“Pertama-tama, saya ingin menyampaikan duka dan empati yang mendalam kepada saudara-saudara kita yang terdampak gempa bumi di Flores. Doa dan simpati saya sampaikan kepada keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta, kepada saudara-saudara kita yang mengalami luka-luka, kehilangan tempat tinggal, maupun kehilangan mata pencaharian akibat bencana ini,” kata Menpar Widiyanti.
Menpar Widiyanti menyampaikan bahwa pemerintah terus bergerak bersama dalam penanganan dampak bencana melalui berbagai kementerian dan lembaga sesuai tugas dan kewenangannya. Dukungan diberikan lintas sektor, mulai dari bantuan sosial dan logistik, layanan kesehatan, pemulihan perumahan dan konektivitas, transportasi dan distribusi bantuan, hingga keberlanjutan pendidikan dan pemulihan dokumen kependudukan.
Presiden Republik Indonesia juga telah hadir langsung di wilayah terdampak untuk memastikan penanganan berjalan dengan baik serta memberikan dukungan anggaran sebesar Rp200 miliar bagi pemerintah daerah terdampak.
Dalam konteks pariwisata, Menpar Widiyanti mengatakan Kementerian Pariwisata hadir di Labuan Bajo untuk mendengar langsung kondisi serta kebutuhan industri dan masyarakat, sekaligus mengidentifikasi langkah pemulihan yang dapat dilakukan sesuai kewenangan kementerian.
“Kementerian Pariwisata hadir di Labuan Bajo dengan fokus pada pemulihan dan keberlanjutan sektor pariwisata. Hari ini saya bertemu langsung dengan pemerintah daerah, industri, asosiasi, serta para pemangku kepentingan pariwisata. Yang paling penting, saya datang ke sini untuk mendengar langsung kondisi, tantangan, dan kebutuhan mereka pascabencana,” ujar Menpar Widiyanti.
Menurut Menpar, pemulihan pariwisata perlu diprioritaskan berdasarkan tingkat kerusakan, kesiapan destinasi dan pelaku usaha untuk kembali beroperasi, serta tingkat ketergantungan masyarakat terhadap aktivitas pariwisata.
Pemulihan juga perlu mencakup seluruh mata rantai pariwisata, mulai dari destinasi, akomodasi, restoran, desa wisata, kapal wisata, pemandu, hingga UMKM. Dengan demikian, keberhasilan pemulihan tidak hanya diukur dari perbaikan aset, tetapi juga dari pulihnya pekerjaan dan pendapatan masyarakat.
Menpar Widiyanti menekankan empat langkah dalam pemulihan pariwisata Flores, yakni memastikan keselamatan serta komunikasi publik berbasis data yang aktual dan konsisten, memulihkan destinasi, industri, dan ekonomi masyarakat, mengembalikan kepercayaan pasar dan melakukan reaktivasi pariwisata secara bertahap, serta memperkuat ketangguhan destinasi terhadap risiko bencana.
“Pemulihan tidak berhenti pada perbaikan kerusakan fisik. Momentum ini harus kita gunakan untuk memperkuat manajemen risiko bencana, SOP tanggap darurat, jalur dan titik evakuasi, sistem komunikasi, hingga kesiapan seluruh pelaku pariwisata menghadapi kondisi darurat,” kata Menpar Widiyanti.
Dalam pertemuan tersebut, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melaporkan bahwa aktivitas pariwisata Labuan Bajo tetap berjalan dan arus kunjungan wisatawan relatif terjaga pascagempa.
Berdasarkan laporan Bupati Manggarai Barat per 28 Agustus 2026, aktivitas pelayaran wisata di Labuan Bajo tetap berjalan pascagempa, dengan tercatat 2.854 keberangkatan kapal dan 32.692 pergerakan wisatawan sejak 15 Agustus 2026. Arus penerbangan domestik maupun internasional juga dilaporkan relatif stabil.
Taman Nasional Komodo dan Pulau Padar telah kembali dibuka setelah sempat mengalami penutupan sementara pada periode tertentu untuk kepentingan asesmen keselamatan. Sejumlah atraksi wisata darat juga tetap beroperasi.
Menpar Widiyanti mengatakan kondisi tersebut penting untuk dikomunikasikan kepada wisatawan secara akurat dan terukur. Informasi kepada publik harus selalu mengacu pada kondisi aktual di lapangan, termasuk mengenai destinasi yang telah beroperasi, masih dalam proses asesmen, ataupun perlu ditutup sementara.
“Keselamatan wisatawan dan masyarakat tetap menjadi prioritas. Karena itu, informasi harus berbasis data yang sama, diperbarui secara cepat, dan disampaikan secara konsisten agar wisatawan dapat mengambil keputusan berdasarkan kondisi yang benar-benar terjadi di lapangan,” ujar Menpar.
Kementerian Pariwisata melalui Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, kementerian dan lembaga terkait, serta ekosistem pariwisata.
BPOLBF juga telah melakukan pemantauan dan asesmen terhadap daya tarik wisata, akomodasi, restoran, fasilitas pariwisata, dan aksesibilitas, serta mendukung penyampaian informasi, pendampingan wisatawan, dan penyaluran bantuan.
Menpar Widiyanti menegaskan seluruh masukan yang diterima dari pelaku pariwisata akan ditindaklanjuti sesuai dengan kewenangan Kementerian Pariwisata. Tindak lanjut tersebut diarahkan untuk mendukung proses pemulihan sekaligus memperkuat tata kelola keselamatan, komunikasi krisis, serta mitigasi bencana di destinasi pariwisata.
*Perkuat Keselamatan Wisata Bahari*
Selain pemulihan pascagempa, pertemuan membahas penguatan keselamatan berwisata, khususnya pada aktivitas wisata bahari yang menjadi salah satu kekuatan utama Labuan Bajo.













