JAKARTA, Cobisnis.com – China dan Amerika Serikat semakin bersaing dalam mengembangkan kecerdasan buatan atau AI untuk kepentingan militer. Beijing kini secara lebih terbuka mengembangkan AI untuk membantu perencanaan operasi udara berskala besar.
Media pemerintah China melaporkan sistem tersebut dirancang untuk mendukung latihan yang melibatkan ratusan target dan puluhan formasi. Angkatan Udara China disebut telah menggunakan sistem berbasis AI untuk menyusun rencana pertempuran yang melibatkan lebih dari 100 unit.
Sistem tersebut disebut sebagai sistem perencanaan serangan cerdas dan presisi. Teknologi itu dirancang membantu komandan dan pilot dalam memprioritaskan target, mengoordinasikan gelombang serangan, serta membagi tugas kepada unit yang terlibat.
Laporan CCTV yang dikutip South China Morning Post menyebut sistem tersebut telah digunakan berkali kali. Penggunaan ini menjadi gambaran mengenai upaya Beijing mengintegrasikan teknologi AI ke dalam operasi militer Tentara Pembebasan Rakyat atau PLA.
Sistem tersebut dikembangkan untuk mendukung konsep peperangan sistem dari sistem. Berbagai platform dan sistem senjata dapat digabungkan serta diselaraskan melalui satu sistem berbasis AI.
Pengembangan sistem peperangan udara itu dipimpin Kolonel Senior Deng Jianping. Teknologi tersebut digunakan untuk mendukung latihan dengan formasi yang semakin besar dan melibatkan berbagai jenis pesawat.
Dalam latihan angkatan udara berskala besar, sistem tersebut disebut mampu membantu lebih dari 100 unit taktis mengoordinasikan serangan. Penggunaan AI diarahkan untuk membantu menentukan peralatan, operasi, dan medan yang digunakan dalam latihan.
Perkembangan tersebut sejalan dengan arahan Presiden China Xi Jinping. Dalam sesi studi Politbiro pada Kamis, Xi meminta PLA memperkuat penerapan teknologi cerdas dan tanpa awak serta memperdalam pengembangan sistem informasi jaringan.
Sebelumnya, penggunaan AI oleh PLA lebih banyak dikaitkan dengan pengembangan kawanan drone. Kini perhatian Beijing mulai meluas ke sistem yang mendukung operasi berskala besar dengan keterlibatan pilot manusia.
Amerika Serikat juga mengembangkan teknologi AI untuk kebutuhan militernya. Namun, program Washington seperti Project Maven lebih menitikberatkan pada kesadaran situasional di medan tempur dan analisis intelijen.
Perkembangan ini menunjukkan persaingan teknologi antara China dan AS semakin masuk ke sektor pertahanan. AI tidak lagi hanya menjadi alat untuk analisis data, tetapi mulai diarahkan untuk membantu perencanaan dan koordinasi operasi militer dalam skala besar.













