JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim negosiasi baru antara AS dan Iran akan dimulai pada Senin, 3 Agustus 2026. Pernyataan itu disampaikan setelah Trump menunda rencana serangan besar terhadap Iran.
Trump menyampaikan pernyataan tersebut kepada awak media di pesawat kepresidenan Air Force One pada Minggu. Ia mengatakan Iran tidak menginginkan serangan baru karena telah mengetahui skala serangan yang sebelumnya direncanakan.
“Jelas, mereka tak ingin diserang. Mereka tahu skala serangan karena mereka melihatnya,” kata Trump, dikutip dari beberapa sumber.
Trump kemudian menyebut pembicaraan dengan Iran akan dilakukan dalam bentuk negosiasi. Menurutnya, perundingan tersebut dijadwalkan dimulai pada Senin sore.
“Dimulai besok, Senin sore,” ujar Trump saat menjelaskan rencana negosiasi tersebut.
Trump mengatakan keputusan menunda serangan besar diambil setelah AS berkomunikasi dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Iran. Menurut Trump, negara negara tersebut tidak menginginkan serangan masif kembali terjadi.
Pembahasan dalam negosiasi baru itu diperkirakan mencakup kondisi Selat Hormuz dan masa depan program nuklir Iran. Trump menyebut isu denuklirisasi juga menjadi salah satu agenda utama dalam pembicaraan.
“Berkaitan dengan Selat Hormuz dan pada akhirnya juga denuklirisasi,” ujar Trump, dikutip Anadolu Agency.
Ketegangan AS dan Iran kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir meski kedua negara sebelumnya telah mencapai kesepakatan penghentian pertempuran. AS dan sekutunya, Israel, sebelumnya menggempur Iran dengan alasan menghancurkan program nuklir negara tersebut.
Iran kemudian membalas serangan tersebut dengan menyerang Israel dan pangkalan Amerika Serikat di sejumlah negara Arab. Teheran juga menutup Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan energi global.
AS dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata pada April yang kemudian diperpanjang tanpa batas waktu. Pada Juni, kedua negara juga menandatangani nota kesepahaman terkait penghentian pertempuran.
Namun, situasi kembali memburuk pada Juli ketika Amerika Serikat kembali menggempur Iran. Teheran kemudian memberikan respons terhadap serangan tersebut.
Rencana negosiasi terbaru menjadi upaya diplomatik di tengah ketegangan yang masih berlangsung. Belum ada kepastian apakah pembicaraan tersebut akan menghasilkan kesepakatan baru terkait program nuklir Iran maupun situasi di Selat Hormuz.













