JAKARTA, Cobisnis.com – Hungaria akan menutup sementara Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir atau PLTN Paks setelah permukaan Sungai Danube turun ke level terendah.
Kondisi tersebut membuat pasokan air untuk mendinginkan reaktor tidak lagi mencukupi. PLTN Paks merupakan satu satunya pembangkit nuklir yang beroperasi di Hungaria.
Perdana Menteri Hungaria Peter Magyar mengatakan PLTN Paks akan dimatikan mulai Minggu, 3 Agustus 2026. Penghentian ini menjadi yang pertama sejak pembangkit tersebut beroperasi 44 tahun lalu.
PLTN Paks memiliki peran penting dalam sistem energi Hungaria. Pembangkit tersebut selama ini memasok hampir separuh kebutuhan listrik negara tersebut.
Penurunan debit Sungai Danube membuat kemampuan pembangkit terus berkurang. Produksi listrik yang sebelumnya mencapai 965 megawatt pada Jumat turun menjadi 240 megawatt pada malam harinya.
Angka tersebut jauh di bawah kapasitas normal PLTN Paks yang berada di sekitar 2.000 megawatt. Pembangkit ini menggunakan air Sungai Danube untuk membantu mendinginkan empat reaktornya.
Permukaan air yang terus menyusut membuat pompa kesulitan menarik air dalam jumlah yang dibutuhkan. Pemerintah Hungaria menetapkan pembangkit harus dihentikan ketika permukaan sungai di wilayah Paks mencapai minus 134 sentimeter.
Ketinggian air diperkirakan turun hingga minus 144 sentimeter. Angka tersebut bahkan melampaui rekor sebelumnya sebesar minus 98 sentimeter yang tercatat pada 2018.
Sungai Danube membentang dari Jerman hingga Laut Hitam dan menjadi salah satu sungai besar Eropa yang terdampak penyusutan debit. Kondisi tersebut dikaitkan dengan gelombang panas dan kekeringan berkepanjangan dalam beberapa bulan terakhir.
Dampak kekeringan tidak hanya dirasakan sektor energi. Pemerintah Hungaria juga mencatat gangguan terhadap pelayaran, pariwisata, pertanian, dan industri.
Pemerintah telah memberlakukan pembatasan penggunaan air di lebih dari 100 kota dan desa. Perusahaan dengan konsumsi air tinggi juga diminta secara sukarela mengurangi penggunaan air untuk menjaga ketersediaan.
Perdana Menteri Slovakia Robert Fico mengatakan negaranya terus memantau kondisi pasokan energi di kawasan. Slovakia juga menyatakan siap memberikan bantuan apabila diperlukan.
Kondisi ini terjadi setelah sebagian besar wilayah Eropa mengalami gelombang panas beruntun sejak Mei. Kelompok World Weather Attribution menilai perubahan iklim akibat aktivitas manusia menjadi penyebab utama suhu ekstrem tersebut.













