JAKARTA, Cobisnis.com – Hendro Prasetyo, aktivis kemanusiaan yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla II, mengungkap pengalaman saat menjalani penahanan oleh aparat Israel.
Hendro mengatakan dirinya bersama sejumlah aktivis lain memilih melakukan mogok makan selama berada dalam tahanan. Mereka mengambil keputusan tersebut karena meragukan keamanan makanan yang diberikan.
Menurut Hendro, para tahanan menerima roti dan air minum dari aparat Israel. Namun, ia memilih tidak mengonsumsi makanan tersebut karena tidak mengetahui kondisi dan keamanannya.
Meski begitu, Hendro tetap berusaha menjaga kondisi tubuhnya. Karena itu, ia mengonsumsi air yang tersedia untuk mencegah dehidrasi.
Ia menjelaskan kondisi berubah setelah aparat memindahkan para aktivis dari kapal kecil ke kapal yang lebih besar. Setelah itu, mereka menempatkan para tahanan di ruang berbentuk kontainer.
Sementara itu, akses terhadap air minum menjadi lebih terbatas. Hendro mengatakan satu wadah air harus digunakan bersama oleh puluhan orang.
Karena kondisi tersebut, sebagian tahanan memanfaatkan sumber air yang tersedia di sekitar lokasi penahanan. Menurut Hendro, situasi itu membuat para aktivis harus beradaptasi dengan keterbatasan selama berada dalam tahanan.
Selain menceritakan kondisi penahanan, Hendro juga menjelaskan kronologi sebelum aparat Israel mengambil tindakan. Ia mengatakan sejumlah drone mulai mengitari kapal yang membawa rombongan Global Sumud Flotilla II.
Setelah itu, para aktivis mengenakan pelampung dan mengamankan perangkat komunikasi. Mereka mengambil langkah tersebut karena menilai situasi semakin berisiko.
Tak lama kemudian, sejumlah kapal cepat mendekati rombongan. Selanjutnya, aparat Israel memindahkan para aktivis ke kapal lain untuk menjalani proses penahanan.
Hendro mengaku sempat berada di ruang tahanan yang minim pencahayaan. Selain itu, ia menyebut para tahanan menerima tekanan fisik selama berada dalam pengawasan aparat.
Kesaksian tersebut menambah cerita para relawan yang mengikuti misi kemanusiaan menuju Gaza. Sementara itu, pemerintah Indonesia telah memulangkan sejumlah warga negara Indonesia yang sebelumnya ditahan dalam insiden tersebut.













