JAKARTA, Cobisnis.com – Nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah kembali menguat dan menembus level Rp17.500. Sejumlah bank besar di Indonesia bahkan sudah menjual dolar AS di kisaran Rp17.600.
BCA tercatat menjual dolar AS di angka tertinggi, yakni Rp17.660 dengan kurs beli Rp17.360. Ini menjadikan BCA sebagai bank dengan kurs jual dolar tertinggi di antara bank-bank besar saat ini.
Bank OCBC NISP mematok kurs jual dolar AS di Rp17.616 dengan kurs beli Rp17.338. Selisih antara kurs jual dan beli di bank ini tercatat sekitar Rp278.
BRI menjual dolar AS di angka Rp17.615 dengan kurs beli Rp17.415. BTN juga mematok kurs jual di angka yang sama, Rp17.615, dengan kurs beli Rp17.365.
Sementara Bank Mandiri dan BNI kompak mematok kurs jual dolar AS di Rp17.560. Kurs beli Mandiri berada di Rp17.260, sedangkan BNI di Rp17.420.
Penguatan dolar AS ini bukan fenomena baru, namun tembus level Rp17.500 menjadi sinyal serius bagi perekonomian domestik. Level ini disebut sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Pelemahan rupiah berdampak langsung pada berbagai sektor, terutama importir dan pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri. Biaya produksi berpotensi naik dan ujungnya bisa berimbas pada harga barang di tingkat konsumen.
Bagi masyarakat yang berencana ke luar negeri atau membutuhkan dolar untuk keperluan bisnis, kondisi ini jelas memberatkan. Setiap pembelian dolar kini harus merogoh kocek jauh lebih dalam dibanding beberapa bulan lalu.
Bank Indonesia selama ini terus berupaya menjaga stabilitas rupiah lewat berbagai instrumen kebijakan moneter. Namun tekanan eksternal dari penguatan dolar AS secara global membuat ruang intervensi semakin terbatas.
Pergerakan kurs ini akan terus dipantau pasar dalam beberapa hari ke depan. Stabilitas nilai tukar menjadi salah satu indikator penting bagi kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.













